Pagi ini, saya bertemu dengan penjual roti yang setiap hari melintasi rumah. Dia dengan bersemangat menjual rotinya. Satu hal yang membuat saya terus memperhatikan orang ini adalah, dia bekerja tanpa alas kaki. Namun ia tampak sangat yakin bahwa ia memang memiliki satu tujuan yang pasti untuk bisa memberi makan, setidaknya, dirinya sendiri.
Hal itu membuat saya bersemangat dan akan berusaha untuk bisa menyelesaikan tesis ini pada pertengahan tahun 2010.
Categorized in Tak Berkategori
Tags: hidup, jurnal 2010, life, tesis
30 Januari 2010
Melayang diturunan merupakan sensasi utama dalam bersepeda. Saya merasa seperti anak kecil lagi. Berbelok ke arah Gedung Sate, menuju Museum Geologi dengan infrastruktur jalan terburuk untuk sekelas ibukota provinsi se-Indonesia. Sekelompok turis Malaysia terlihat di salah satu hotel dekat Pusdai dengan belasan penjaja suvenir yang memaksa mereka untuk membeli produk tak bermutu yang ditawarkan. Saya menuju Jalan Anggrek dan selepas melintasi Jalan Riau, saya menemukan sebuah rumah yang sangat cantik. Semoga, suatu ketika saya bisa punya rumah seperti itu, yang hangat diisi oleh keluarga kecil. Dimana saya bisa bersama tanpa harus terpencar jarak dan waktu. Dimana saya bisa melihat anak-anak saya berkembang dengan utuh. Mengangkat mereka ketika jatuh dan menepati setiap janji yang diucapkan. Saya ingin membangun mimpi yang tidak terlaksana pada generasi sebelumnya. Lalu saya menemukan sebuah taman kota kecil yang kosong. Beberapa arena permainan sudah ditinggalkan, hanya ditemani pepohonan raksasa yang setia menemani. Seorang pesepeda melebarkan senyumnya kepada saya. Sudah lama rasanya saya tidak disapa orang asing dengan hangat.
31 Januari 2010
Saya tidak yakin dengan diri & ambisinya yang tidak sejalan dengan apa yang saya cita-citakan. Seharusnya pagi ini saya menghubunginya untuk mengajak makan atau sekedar berbicar, tapi saya kembali merasa kosong seperti ketika melintasi jalan dengan kelap-kelip lampu menyinari permukaan wajah. Melaju dengan kecepatan sedang dengan memandang ujung jalan yang tidak jelas.
Saya bingung, apakah karena rusaknya laptop ini maka saya mulai berpikir…. tentang hal-hal lain. Memang rasanya sudah saatnya untuk menutup laptop lebih lama.
2 Februari 2010
Kami pun memutuskan untuk makan ditengah hujan yang besar. Saya membaca satu pesan singkat melalui twitter tentang betapa takutnya kita akan hujan pada saat ini, padahal hujan pernah menjadi sahabat terbaik diwaktu kecil. Hal tersebut mengingatkan saya pada Film Mukhsin dimana pada salah satu scene, keluarga Orked bermain musik keroncong. Pada saat itu, Orked dan ibunya menari ditengah hujan, gembira. Saya rindu dengan suasana hangat keluarga dan merasa memang tidak pernah ada momen hangat seperti itu. Ditengah perjalanan saya berpikir tentang berbagai hal di masa lalu, masa depan.
6 Februari 2010
Pembicaraan tadi lumayan membuat saya kangen. Dokter itu bertanya apakah saya pacar-nya? Kami menjawab sebagai teman. Banyak yang terlintas dikepala belakangan ini, terutama tentang laptop yang tidak beres, padahal saya tengah mencoba untuk menyusun proposal thesis baru. Belakangan saya merasa bahwa kerusakan laptop bukan karena RAM, Keyboard, atau apapun itu, namun lebih ke teguran Tuhan. Hal tersebut membuat saya memutuskan untuk menghentikan segala hal buruk yang saya lakukan dan berkonsentrasi. Selepas jam 1, kami pulang masing-masing, dan saya masih belum berani mengucapkan sepatah komitmen pun. Entah, apakah dia merasakan juga atau hanya saya saja yang terlalu ke-ge-er-an.
Categorized in Tak Berkategori
Tags: jurnal 2010, life
I was having this severe headache that turned into flu. It was contagious so my laptop was got it as well and I had to put it in Toshiba Service Center.
Dan cerita pun bergulir..
Categorized in Tak Berkategori
Tags: days without computer, life
Now, all I need to do is finishing my thesis and nothing else to do, basically. Well, I am sending this proposal to one of the leading O&G company, but denno when will they replied it. Right now, I am doing my carbonate’s thesis, which I am not really satisfied with it’s data. So, yeah.. whatever..
This painful period means, I got only thesis to do and basically it’s torturing because everything works based on my mood. And I am quite lazy sometimes. Blah..
Categorized in Tak Berkategori
Bandung kini memiliki sebuah art space baru bernama Lawang Wangi yang berada di puncak bukit(view malamnya spektakuler euy). Jumat malam kemarin saya dan dua orang teman baik saya datang kesana untuk melihat pembukaan artspace ini. Rame banget, semua seniman, arsitek, kolektor, kurator, pecinta seni, dan beberapa orang yang masih ragu-ragu dengan seni (gw) datang. Nice food btw hehe. Beberapa hasil karya dari pameran perdananya berjudul Halimun.

tema pameran pembukaan

miss monroe

suasana

i will not make any boring art

curators

guys! please!!
Categorized in Tak Berkategori
Tags: art, bandung, budaya, indonesia, kontemporer, lawang wangi, science, seni, seniman, space