Hmm..interesting..
Ooooh, get me away from here I’m dying, sing me a song that set me free..

Jun
18

Berawan ketika kami memasuki Taman Nasional Baluran. Agak serem juga ya, mengingat kami berdua hanya menggunakan sepeda motor yang setengah sakit-sakitan. Saya masih sedikit phobia dengan tragedi mio kemarin. Jalan masuk ke TN Baluran ini bisa dibilang rusak, sesekali baik. Pepohonan khas savannah mulai muncul. Burung-burung mulai banyak terdengar. Saya sendiri belum bisa melihat mamalia satupun. Namun alhamdulilah saya menemukan burung rangkong diatas sebuah pohon jenis palem yang tinggi.

Bali&Baluran 205Keliatan gak rankongnya?

Di Bekol, sebuah savannah yang sekarat. Padang rumput menguning mulai mengalami penghancuran oleh kehadiran semak belukar pengrusak. Dengan drop back Gunung Baluran yang kokoh, semuanya mirip Kilimanjaro. Memang ini semua sesuai dengan apa yang dikatakan sebagai Little Africa in Java.

Kami naik ke puncak watch tower. Kami turun dan menuju Pantai Bama. Menuju sana kami menemukan sekelompok pramuka asal sebuah sekolah katolik dari Jember yang baru kamping. Dan mereka membuang sampah segunung. Huh! Pramuka tuh? Di sepanjang perjalanan jenis burung yang kami temui semakin bervariasi. Wah, sekali lagi gw nemuin rangkong.. seneng.. Jalan menuju Bama juga masih buruk dan berbatu. Tapi dari Bekol ke Bama lebih menarik dibandingkan dari pintu utama Baluran ke Bekol. Benar-benar kerasa Afrika. Ha ha ha.. Though Pantai Bama-nya agak mengecewakan apabila dibandingkan dengan Dreamland atau Kuta. Ha ha ha..

Bali&Baluran2 004

Bali&Baluran2 026

Bali&Baluran2 048

Bali&Baluran 176

This is BALURAN BABY!!

Tenggorokan saya makin nggak enak dan cuaca tampak semakin akan mendung. Niat untuk lebih lama di Baluran pun saya urungkan. Mana bantengnya?? Sulit sangat menemukannya! Saya yang mengendarai motor menuju pintu keluar Baluran. Sedikit ngebut. Dalam kondisi badan yang kurang segar memang semuanya tidak nikmat ya? Kejutan terjadi ketika menuju pulang, kami menemukan burung merak betina sedang berjalan, namun dengan segera masuk kedalam semak-semak. Ahhh… senang!!!!

Sesampainya di pintu keluar, kami mengembalikan motor ke si ibu dan makan siang di warungnya. Saya berpikir bahwa sudah banyak sekali makanan yang kurang higienis telah saya makan. Tapi hell.. Kami menunggu dipinggir jalan dengan gembel untuk menemukan bus ekonomi yang akan membawa ke Surabaya. Untung saya sudah memesan tiket pesawat terbang ke Jakarta. Sulit dibayangkan apabila saya harus naik kereta atau bus ke Bandung. Puff….

Perjalanan ke Surabaya merupakan penderitaan yang cukup besar. Capek dan agak sakit. Sudah mana capek dan lengket, panas, dan banyak bau rokok. Lalu di daerah Probolinggo hujan. Yaaa mantafff….

Jun
18

Kami berhasil kembali in one piece ke Denpasar. Dude, what a harsh day. Before return back @ rizki’s, kita memutuskan untuk ke Kuta sejenak merenungi hari dan berharap menemukan bule-bule berenang telanjang. Sayangnya, hal tersebut hanya bisa didapatkan di jam-jam tertentu. Segerombolan siswi SMP/SMA dari Jawa tampak mulai menggerayangi Kuta yang surut. Everything should be damn beautiful if only I was born in 1920. Anyway, after some photo sessions, we held back to prepared our departured.

The shittiest thing about Denpasar is that, nggak ada angkot yang bisa kita pahami rutenya. Maybe that’s what happened if you are new in a town like this. With Bluebird on our side, everything is less complicated but pricey though. Tiba di Ubeng dan melaju ke Gilimanuk dalam bus yang steamy and hot. People were smoking all over the place, It just annoyed me a lot. We arrived in Gilimanuk around midnight and catch the ferry for Ketapang. The wind blows so hard and all I have was this wet jacket.

Seorang pedagang asal Jawa Timur mencoba untuk menjual barangnya dengan sedikit komedi. Lucu juga. Raungan lagu dangdut menerawang di dek kapal yang diisi oleh kursi-kursi rapuh yang tua dan sekelompok turis Jepang tengah mengabadikan momen-momen negara dunia ketiga ini dengan pandangan “Thank God, I am a japaneese”.

Di Ketapang, Jawa Timur. It was around 2 or 3 AM. We decided to sleep down at the mushalla. It was clear mention that people are not allowed to sleep inside the mushalla, but still we insist to sleep. Outside was cold and windy. But soon after this couple came in, we decided to go and sleep outside. Damn, I could not sleep at all. So, I leave Jojo whilst he slept outside and return back to the mushalla where I found the couple also sleep inside! Dang!

Around 4 AM, adzzan woke me up and I pray and sleep and woke up again around 6 AM. We ran into the street to found food (which is absolutely ridicilous, but cheap). Then we managed to found our way to Baluran.

Picture 345

Somewhere in Kuta.

Jun
18

Mungkin sebagian mulai bertanya, “Ok man, where is the part with BALURAN on it”, karena sepertiya saya malahan meriview Bali. Well, just wait and see lah..

Hari selasa, motor Mio laknat itu masih ada di rumah dan kami bersiap untuk kembali menuju berbagai tempat di Bali. Kali ini tujuan pagi-pagi sekali adalah Taman Ayun yang merupakan bagian dari sisa kejayaan Kerajaan Mengwi di Bali. Sungguh mengangetkan kalau Bali ini (sebuah pulau sekecil ini) memiliki beberapa kerajaan yang sempat jaya-jaya di masanya. Menuju Taman Ayun bisa dikatakan cukup mudah, namun melelahkan mengingat kami menggunakan Mio dan pantat ini rasanya mengkerut. Melewati jalan utama Gilimanuk-Denpasar, kurang meyenangkan karena banyak bus besar, namun seketika kami memutuskan untuk masuk ke jalan-jalan banjar yang lebih sepi suasana itu berubah.

Picture 225Penduduk sekitar.

Inget nggak sih jaman-jaman ketika semuanya itu damai dan tentram? Saya punya memori ketika tinggal di Lombok. Gang kecil di tempat saya tinggal berisi kan orang-orang dari berbagai belahan nusantara yang beda budaya namun saling membantu. Hal tersebut saya temui di banjar-banjar kecil disini. Rumah-rumah disini seakan masih kuat menjaga ciri khasnya dengan pura dan arsitektur khas Bali. Terjaga kebersihannya juga. Lalu selalu ada pura besar yang menjaga banjar-banjar tersebut dengan sangat menyenangkan, bahkan sebagian juga sudah berusia tua. Beberapa balai desa masih dipergunakan dengan maksimal oleh warga sebagai sarana bekerja sama dan berdiskusi. Hal-hal kayak gini nggak bakalan jamak di Jawa Barat.

Pemandangan sawah terjaga disepanjang jalan dengan regulasi pemerintah daerah yang mengharamkan pembangunan disepanjang jalan, gw rasa hal itu brilliant banget.

Kami tiba di Taman Ayun yang suprisingly, kita nggak bayar parkir sama sekali. Mungkin these pictures will tell you the story lah ya..

Picture 194Green-green grass.

Picture 175With the tample and stuff.

Setelah Taman Ayun, kami meneruskan perjalanan dengan Mio menuju Sangeh untuk mengunjungi kerabat terdekat manusia. Sangeh on my mind agak sedikit berbeda dengan apa yang terlihat saat ini. Well, terakhir kesini pas SMP gitu lah. Monyet-monyetnya tidak begitu banyak namun tak se agresif yang dulu. Beberapa turis asal Rusia tampak bahagia dan terhibur ketika mendapatkan godaan dari monyet-monyet tersebut. Pohon-pohon pala yang menjulang tinggi tampak melindungi pura di tengah hutan sangeh. Sinar matahari memasuki celah-celah pepohonan dan menyinari pura yang membuat suasana menjadi sangat ajaib. Saya takut sama monyet, karena dulu pernah dicakar pas masih SD disini.. igihihih.. Hal yang membuat cukup kesal di Sangeh adalah ketika kita keluar dari wahana wisatanya. Kita digiring ke sebuah maze toko suvenir yang cukup panjang dan melelahkan. We had to smile all the way..

Picture 240Sangeh! Right where the monkey at!

Dari Sangeh kami cabut ke Bedugul. Baju tangan pendek yang saya kira akan membantu proses penghitaman lengan atas menjadi sebuah kesulitan baru, mengingat udara makin dingin. Dari panas menjadi dingin. Ke arah Bedugul dengan motor NOT FUN AT ALL! Maksudnya kondisinya sangat melelahkan, pemandangan sih ok. Kami makan siang di sebuah rumah makan yang disebelahnya ada masjid. Tapi gw sendiri gak paham apa RM nya halal atau nggak, mengingat mereka menyajikan sate babi.

Picture 281Sound of solitude..

Bedugul ditempuh AKHIRNYA! Yang cukup mengejutkan dari kawasan wisata Danau Bratan adalah kehadiran ponpres di sampingnya. Gwahaha.. cukup mengejutkan. Lalu kita masuk ke daerah wisata itu dengan bayarRp.7500 parkir Rp.2000. Yang menarik dari wisata di Bali adalah pengelola kawasan wisata sebagian besar adalah kampung-kampung adat itu sendiri, sehingga mereka bukan cuman jadi penonton saja. Gw heran sama Bali, dengan semua atraksi wisata yang berupa pura, mereka mampu menarik wisatawan sangat banyak. Namun yang gw temukan adalah setiap lokasi wisata berbasis pura ada keunikan ceritanya masing-masing. Untuk itulah bagusnya di Bali beberapa lokasi memiliki guide yang membuat kita punya nilai lebih dari tempat-tempat yang dikunjungi.

Kita pulang ke Denpasar, mau ke Kuta liat sunset. Tapi yang terjadi adalah hujan tropis BESAR!!!!! And worst ban motor kempis lagi!!!!! Motor ini shit banget!! BIGGEST SHIT EVA!! Mengingat hujan dan kami ingin pulang ke Denpasar, melihat sunset, dan malamnya kembali ke Jawa untuk menyaksikan Baluran.

Jun
17

Tiba di rumah Rizky jam 6 pagi dengan supir taksi yang tidak tahu alamat. Untungnya saya sudah khatam menonton Amazing Race sehingga bisa mengatasi hal-hal tersebut. Rizki menyambut dengan hangat dan menghidangka pisang goreng di pagi hari itu. Hal yang tidak bisa ditunda adalah MANDI! Oh, rasanya badan ini lengket-lengket semua. Juga ingin tidur dengan segera karena lemah letih lesu.

Siang hari, saya ke warnet! Ha ha ha.. Untung sih gw ke warnet, karena bisa jadi nilai Geotektonik gw terancam nggak dapet A karena permasalahan email yang tidak terkirim ke dosen. Gilak, saya sudah di Bali, masih belum percaya mengingat terakhir ke sini adalah SMP? Udah lama banget deh. Sambil menunggu Jo terbangun dari tidur, saya telepon lah rental motor yang ternyata hampir semuanya penuh. Hingga akhirnya ada satu bapak ini gw lupa namanya yang bisa menyewakan motornya ke kita, sayangnya motor itu adalah MIO.

Kita pun jalan-jalan berdua gitu naek motor mio. Anehnya, sepanjang jalan, suka ada orang-orang nggak jelas yang ngaku sebagai turis guide nyamperin! Ganggu banget!! Denpasar pada saat itu cerah ceria, matahari bersinar terik dan saya tak sabar untuk merasakannya. Tujuan awal kami adalah Garuda Wisnu Kencana yang berada di kawasan Pecatu. Kita basically nyasar. Berputar-putar melewati banjar-banjar kecil yang cukup menarik untuk dilihat. Kawasan selatan Denpasar ini cukup berbukit dan gersang. Kayaknya batugamping gitulah. Setelah beberapa kali nanya akhirnya kami berhasil masuk ke GWK dan bayar Rp.20,000 (kalo nggak salah). Bagian depan GWK cukup kusam dan tak terawat, namun bagian dimana terdapat patung raksasa itu masih cukup ramai. Termasuk kunjungan anak-anak SMP.

Picture 093JUMP!

Ketika kami parkirkan motor, sekelompok anak-anak SMP dengan bus-bus Ac nya juga baru tiba. Dan baru keluar dari bus pada muntah-muntah dong! Ha ha ha.. kocak abis. Gaya anak-anak ini luarrr biasa trendy, sehingga saya yang kece jadi memble. Mereka berdesak-desakan di pintu masuk daerah eksibisi, macam di Dufan itu. Untung saya cukup tinggi (ehem..) sehingga bisa menembus barisan manusia yang bau kesang ini lalu masuk dengan sukses.

GWK zona inti ini mengingatkan saya pada film-film mexico, dimana rumah-rumah berwarna terakota yang tersusun apik. Lalu ada beberapa tempat dimana kerap diadakan pagelaran budaya gratis. Sayang kita datang terlalu pagi sehingga acara tari kecak gratis nggak bisa kita saksikan. Lotus Pond adalah zona luas dengan padang rumput dan dinding-dinding batugamping menjulan tinggi kotak-kotak dipotong oleh manusia. Di ujung atas terdapat wajah Garuda raksasa dan sedikit naik keatas maka akan bertemu bagian badan Wisnu yang tak bertangan. Disinilah saya baru menyadari setting-an kamera SLR saya tidak cocok. Cih!!!

Setelah beberapa episode foto lompat kami pun pulang dan mendapatkan ban mio kami GEMBOS! Jadi dibawa jalan aja ke pintu keluar yang ada kali 1 KM. Cih! Setelah ditambal dan menghabiskan beberapa lembar rupiah, lanjut dong ke DreamLand!

Picture 109Dreamland dawn..

Masuk ke Dreamland bisa dibilang susah. Selain medan naik turun juga ternyata Pantai Dreamland ini masuk dalam sebuah kawasan resort yang belum jadi. Jauuh banget dari pintu utama, kebayang kalau nggak punya kendaraan pribadi. Pantainya sendiri OK, tapi sayang ada hotel gede yang nggak penting mengganggu suasana. Saya tiba terlambat. Gara-gara flat tires brengsek. Beberapa orang membuang sampah sembarangan, menyebalkan ya?

Bisa dibilang saya capek banget dah naek si Mio, karena emang banyak jeleknya untuk menghadapi medan di Bali ini. Kami pun pulang setelah menyaksikan pantai menjadi gelap dan semua orang mulai bergegas pergi. Perjalanan ke Denpasar ternyata cukup jauh.

Picture 134Poppies Lane 2

Legian di malam hari itu seperti Mecca di ArabSaudi pas musim haji. Rame. Semua pusat perbelanjaan dan pub buka. Gadis-gadis berpakaian mini menawarkan para pengunjung untuk masuk ke tempatnya, tentunya orang bule menjadi prioritas pertama. No wonder lah.. ha ha.. Monumen bali bomb bisa dikatakan menjadi pusat atraksi baru di Legian. Kami yang miskin hanya bisa berjalan sambil mengelus dada dan ditawari jasa tukang pijet plus-plus oleh anak-anak dibawah umur. And we were soo damn tired..ha ha ha..

Jun
16

Saya tiba di Gilimanuk sekitar pukul 12.30 pagi. Karena lapar maka kami menyantap pecel pinggir pelabuhan yang kualitas kebersihannya harus dipertanyakan. Si pedagang pun kerap memegang sayur mayurnya dengan tangan kotor tak dicuci. Untuk itu saya mundur dari pecel dan hanya meminta suwiran ayam saja. Bus dari Gilimanuk ke Denpasar bisa dikatakan sudah habis untuk trip antar kota, namun apabila trip dari Jawa ke Bali masih lumayan banyak dan kita bisa menyetopnya tepat di pelabuhan.

Bus yang kami naiki cukup penuh dengan manusia dan asap rokok. Yang saya tangkap dari bus ekonomi memang dipenuhi oleh orang-orang yang berkaus kutang dan merokok. Wajah-wajah letih menikmati jalur transportasi darat termurah ini sangat menyedihkan : berkeringat, muka berminyak, dan tampak ingin istriahat namun tak bisa. Supir bus berjalan dengan sangat ngebut sehingga membuat tegang setiap penumpang, terutama setelah ia dengan sukses menabrakan spion kirinya ke truk yang mau disalip. Jalan di Bali cukup mulus, bahkan sangat mulus. Dengan pura-pura kecil di sepanjang jalan dan bebungaan, cantik. Sesekali terlihat masjid.

Kami tiba di Ubung jam 14.30 pagi dan tidak tahu harus kemana. Mengingat Rizki (teman gw) yang bisa ditumpangi tidak aktif-aktif juga teleponnya. Kami menanyakan arah ke Kuta, untuk mendapatkan penginapan di Gang Poppies yang ternama itu

“Jauh mas..”

Mungkin sekitar 30 menit itu pun naik motor.

Supir-supir taksi dan ojek terus mengusik kami, higga akhirnya kami berjalan kaki aja dari Ubung ke Kut hanya dengan menggunakan petunjuk papan DLLAJR yang mengarahkan ke arah Kuta/Legian. Berjalan di pagi-pagi itu cukup mengerikan sebenarnya dengan pelacur-pelacur yang menghiasi Jalan Gatsu. Ngaku-ngakunya jual kopi, tapi plus biatch juga. Nah setelah 1 jam berjalan kaki, suara pantai masih nggak kedengaran juga. Kami sudah masuk ke jalan-jalan yang lebih sempit dan melihat berbagai macam pura dari yang kecil hingga yang besar. Sedikit kesal, maka kami pun memutuskan untuk menggunakan ANGKOT dengan tanpa tahu arah gitu. Asal nyetop.

Di atas angkot, kami bertanya pada seorang ibu tua kemana arah Kuta (such a tourist). Dia bilang kita salah arah. Damn!! Walhasil kami turun di Jalan Gajahmada dan disuruh untuk meneruskan dengan angkot warna biru. Kami jalan memasuki paar pagi dimana para penjual bunga-bunga segar mulai aktif. Cakep banget dah! Kami menemukan angkot yang mau membawa kami ke Kuta dengan biaya Rp.5000. Beuh..

Sepanjang jalan saya mengantuk dan mata saya perih..

Terbangun di Poppies Lane dalam keadaan bego dan masih disorientasi. Jam 5 pagi sodara-sodara.. Masih ada turis-turis bule miskin yang mabok disana. Kami diturunkan di ujung poppies lane dekat dengan monumen bom bali. Sambil menelusuri poppies lane 2 untuk mencari penginapan, kami diganggu oleh turis-turis bule miskin yang mabok seraya melempari kami dengan roti kering. Sialan! Tadinya mau di middle finger–in tapi saya lagi capek. Penginapan demi penginapan kami lalui, penuh atau terlalu mahal. Dan setiba di ujung Poppies Lane 2 kami pun pasrah kepada YME dan memutuskan untuk ke Kuta melihat bulan purnama yang gede banget. Beberapa bule berenang bugil. Sayangnya yang cowok doang. Ha ha ha..Eh eh eh.. siizki bisa nyambung teleponnya. Dan dia dengan kaget berkata,

“BOOONG LUU!!”

Beberapa hari sebelumnya saya mengutarakan akan pergi ke Bali namun nggak jadi karena jadwal yang sulit, sekarang udah di Bali ajaa.. Ha ha ha.. Ah.. Capek awak…