Ke Monas aja..
Hari ini SIBUK! CAPEK! Gimana nggak, saya harus bergerak dari satu sudut Jabodetabek ke sudut Jabodetabrk yang lainnya. Oke trek hari ini dimulai dari negeri senyap bernama Gunung Putri -> JORR -> Rorotan -> Kelapa Gading -> Rawasari -> Kwitang -> Gambir -> Tomang -> Gambir -> Sunan Giri -> Cawang -> JORR -> Kembali kepelukan Gunung Putri. Udah kayak keliling dunia aja.
Tapi hari ini ada yang menyenangkan. Setelah selesai mengambil hasil tes laboratorium di Rumah Sakit Dharmais, saya kembali ke Departemen Perhubungan untuk menjemput bapak yang lagi rapat. Karena lama, akhirnya langsung saja saya ambil kamera Canon EOS400D yang tergolek dibangku belakang mobil dan menuju MONAS!
Monumen Nasional, sebuah mahakarya di era Bung Karno yang diresmikan olehnya pada tahun 1961, ini berdiri di lahan 80 hektar di daerah Jakarta Pusat. Lapangan besar ini bisa dibilang bukan saja ikon Jakarta tapi juga ikon nasional (menurut pendapat gue ya), karena memang maksud dan makna dari Monas ini sangatlah besar “Mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang”. Well, masa Bung Karno memang banyak dibangun monumen-monumen raksasa yang menakjubkan ya!
Sebelum masuk ke Monas, maka kita bisa menemukan sebuah patung Pangeran Diponegoro yang anggun. Patung ini merupakan sumbangan Kedutaan Italia, karya Prof. Coberlato. Didepan patung ada kolam kotak yang besar dan cukup menarik dengan selingan air mancur yang hidup di saat-saat tertentu. Awalnya saya cuma mau foto sana-sini tanpa ada maksud naik ke atas Monas itu sendiri, karena banyak yang bilang bahwa cuma rombongan doang yang diterima. Tapi, bodo amat lah! Let’s go!
Masuk kedalam sebuah terowongan yang merupakan pintu menuju Monas. Terowongan itu sendiri bersih dan nyaman, terawat. Lalu ditemukan empat loket untuk membeli tiket. Harga tiket naik ke puncak monas Rp.7750. Buset! Harganya nggak bulet banget! Itu udah termasuk asuransi ya. Namun seperti biasa deh, kembalian Rp.250 nya nggak dikasi ke kita.
Dibawah Monas, gila, ini monumen gede banget! Apalagi pas dibawah cawan-nya itu. Ada beberapa orang turis yang foto-foto. Lalu saya yang nggak tahu harus menuju pintu mana supaya bisa naik ke atas bertanya ke petugas yang sedang ngaso.
“Pak kalau mau naik ke atas lewat mana ya masuknya?”
Dia jawab.
“Oh kesana aja mas,” sambil menunjuk arah kanan saya.
“Tapi lagi panjang antriannya, kalau mau dibantu bisa!”
Idih! Dasar pegawai negeri!
Akhirnya saya ngantri dan memang cukup panjang. Tampaknya ada anak-anak dari Sekolah Luar Biasa yang berkunjung kesana. Belum lagi beberapa turis lokal dan internasional yang hadir disini. Termasuk dua orang perempuan bule yang ada didepan saya. Mereka tampak sedikit terbingung-bingung dengan tulisan pada tiket masuk ke Monas yang pakai bahasa Indonesia saja.
“Nggak ada terjemahan Bahasa Inggrisnya ya?” saya memulai pembicaraan.
“Ya, saya makanya agak bingung,” kata salah satu dari mereka yang pakai celana merek Bali Ria.
Lalu mulailah saya cerita panjang lebar tentang Bahasa Indonesia itu mudah buat dipelajari.
“Boleh dicoba deh,” balas dia.
Terus kami semua diam. Dan tidak ada komunikasi lagi setelah itu. Mungkin dia mengira gue ujung-ujungnya nawarin souvenir atau melakukan penipuan atau lebih parah ngira gue tukang foto keliling (dengan kamera tergelantung di leher). Selama masa-masa menunggu itu, lagu-lagu nasional mulai dari “17 Agustus tahun 45″, “Halo-Halo Bandung”, “Bangun Pemuda-Pemudi”, dll bernyanyi dengan irama ala Orde Baru (banget). Gue merasa berada di masa-masa tahun 70-an yang sangat gersang… entah kenapa..
Sampai akhirnya kami tiba dipintu depan lift yang berkapasitas 11 orang. Naik menuju ke lantai puncak Monas. Pemandangan sangat luas dan lebar. Jakarta terliputi awan dan kabut (atau polusi??). Pemadangan dari ujung ke ujung terlihat di ruangan terbuka diatas Monas ini. Cukup ramai. Ada empat buah teropong di empat penjuru yang ada disana dengan harga koin Rp.2000 per beberapa menit melihat pemandangan jauh ke beberapa lokasi di Jakarta. Nggak menarik sih menurut gue, karena binocular-nya agak burem.
Didalam ruangan atas ini ada semacam foto landscape wilayah keempat sisi monas yang menjelaskan nama-nama gedung yang bisa terlihat dari sana. Tampaknya masih baru, karena foto proyek Grand Indonesia sudah ada. Muter-muter dikit keliling, lalu foto sana-sini. Ada dua orang tentara TNI yang pada awalnya saya pikir menjaga Monas dari sini. Ternyata,
“Kita lagi jaga RI-1,” kata salah satu dari mereka.
“Hah? Yang mana Pak SBY? Disini? Nyamar? Kok saya nggak ngeliat??”
“Oh, dia lagi di Balaikota, tuh dibawah sana,” tentara itu menunjuk ke arah kantor Bang Foke.
“Ooooo.. jadi mas semacam sniper gitu ya?” gue sok tahu..
“Ya..” jawabnya.
“Lagi ngapain SBY disana mas?” sok tau gue.
“Lagi rapat tentang banjir kemarin”
Tentara itu menunggu sampai jam satu sebelum akhirnya turun kebawah. Kedua tentara itu masih muda dan masih seperti manusia biasa. Banyak becanda.
Setelah bosan, saya pun turun. Lalu ada beberapa orang asing yang sedang berkomunikasi dengan bapak dari Makassar. Hebat juga nih, orang indonesia udah pada jago bahasa inggris!
Yang tidak ada disini dan perlu ditambahkan adalah toko suvenir. Gile, masa nggak ada yang jual miniatur monas sih?? Kaos kek apa kek! Pasti laku, secara orang-orang yang datang bisa ratusan orang pada hari biasa dan pastinya lebih banyak lagi pada akhir pekan.
Ternyata ke Monas cukup menyenangkan dan hanya menghabiskan Rp.7750 (make it Rp.8000 ya)! Sekali lagi lebih baik daripada ke Mall! hehehehhe! Eh, gue bukan anti mall, tapi kalau memang ada tujuan jelas ke mall itu OK, tapi kalau cuma jalan-jalan nggak puguh ogah ah!





Loading...
masa ga ada toko souvenirnya ? yang dideket tempat parkir emang ga ada yah? hmm… waktu kmrn gw kemonas gw ga nyari souvenir sih, jadi ga liat2
ferli - February 6, 2008 at 4:10 pm
huahauhauhaua tukang foto keliling bok pake canon eos GAYA BENER JO.
martha - February 7, 2008 at 4:11 pm
huahahahhaha tukang foto kelilingnya pake canon eos! gaya pissann….
martha - February 7, 2008 at 4:13 pm
yang penting gak banjir aja keliling jauh2, keliling jakarta kan paling enak di dunia….
monk - February 8, 2008 at 3:37 pm
Tapi sekarang jakarta kan sudah menanggulangi banjir dengan bagus……….
monk - February 8, 2008 at 3:39 pm
selama hampir 15 taunan tinggal diseputaran Jakarta aku belum pernah naik ke atas Monas!! paling cuma sampe di cawannya aja, itu pun sekitar 10 taun lalu. :d
Rencana sih sabtu besok mau ke puncak Monas, sekalian ngajak temen dari Philippine keliling Jakarta. :p
dharto - July 8, 2008 at 10:21 am