Jogjakarta & Borobudur
Udara segar memasuki ruangan kamar kecil di Losmen Jaya. Sumpah di Jogja kok nggak ada nyamuk ya!!! Ideal banget sih kota ini! Saya melirik jam, ah sudah jam enam pagi. Saatnya bersiap untuk menuju Borobudur. Yang lain masih adem ayem tidur, saya sudah mandi. Seperti biasa, saya mencoba untuk selalu tepat waktu dalam berbagai hal. Dan terbukti, jam tujuh gue udah siap bahkan sudah nanya-nanya jalur menuju Borobudur kepada Mas Dani.
Langit sedikit berawan, tapi menunjukkan sedikit cahaya matahari. Dari Sosrowijayan, jalan menuju ujung jalan yang berlawanan arah dengan Malioboro. Disana tunggu bis jalur lima menuju Terminal Jombor (Rp.2000) dan dari Jombor naik bis yang langsung menuju Borobudur (Rp.7000). Jangan sampai ketipu ya sama keneknya yang suka naikkin harga. Tips dari saya : PEDE AJE. Jadi keneknya ngira kita orang lokal.
Perjalanan Jogja menuju Borobudur yang terletak di Jawa Tengah adalah sebuah kenikmatan luar biasa! Kota-kota kecil yang saya lewati sangat bersih dengan jalan yang mulus. Mungkin karena mata saya selalu melihat kesemrawutan kota-kota di Jawa Bagian Barat (Jakarta, Banten, Jawa Barat) maka perjalanan di jogjakarta ini beneran deh splendid banget! Sepanjang jalan ada : Deretan pengrajin patung yang memamerkan beragam patung tiruan arca hindu-budha, sungai yang bersihh (serius gue, sungainya bersih banget!!), bangunan tua, lapangan-lapangan umum yang bersih tanpa PKL, dan masih banyak lainnya. Saya sangat amat terhibur dan merasa lega sekali.
Kalo kata a Agnes Monica
“Saya senang bisa ke Malaysia, karena disini bersih dan teratur, nggak kayak di Indonesia”
Gue rasa karena dia memang sebenarnya nggak pernah benar-benar tinggal di Indonesia. She thinks Indonesia is Jakarta. Hah!
Menuju Borobudur, maka kita akan disajikan Candi Mendut yang tegar berdiri di pinggir jalan dengan pohon-pohon beringinnya yang tua dan besar. Beberapa warga bermain bola dekat candi. This is absolutely marvelous! Karena hebatnya semua tuh berjalan beriringan bersama. Warga melindungi candi itu!
Sampai di Terminal kecil di Borobudur, kita disambut dengan para kusir andong yang mengenakan biaya Rp.10.000 sewa satu andong. Bos! Jangan ketipu, jaraknya sangat dekat dan hanya dengan berjalan kaki maka kita akan sangat cepat sampai ke candi Borobudur itu. Namun demi memberikan hiburan ke Kengo, maka kita naek andong.
“Tuh kan ketipu.. ” kata Desi.
Buat saya, pintu masuk menuju Borobudur tertutup oleh kerumunan pasar suvenir milik rakyat. Kayaknya kebanyakan dan sangat mengganggu pemandangan. Seharusnya kita bisa melihat Borobudur dari kejauhan, tanpa harus terhalang semua bangunan semi-permanen ini.
Satu hal yang cukup menyebalkan di Indonesia adalah pembedaan harga tiket wisatawan. Kasian juga mereka, padahal kan seharusnya ada kesetaraan. Berhubung wajah Kengo yang ke-
asia-asia-an, maka dia bisa kita selundupkan dengan menjadikan dia orang tionghoa..It’s a good trick!
Borobudur is one of the most beautiful monument, protected by national and international law as the world heritage. Bos, bangunan ini dibangun pada tahun 800-an. Kita sedang mencapai masa keemasan dalam seni dan budaya. Pada saat itu dinasti Sailendra yang berkuasa, membangun pusat pendidikan ini. Bangunan ini terletak dikelilingi beberapa gunung berapi. Dan akibat gunung merapi lah akhirnya terkubur rata dengan tanah sebelum akhirnya ditemukan oleh Raffles di era Inggris memerintah Jawa. Borobudur dibagi menjadi beberapa tingkat “Kamadathu, Rupadathu, dan Arupadathu” yang masing-masing mewakili tahapan budha dalam mencapai tingkat kesempurnaan dalam menjadi seorang panutan yang luar biasa.
Kita menemukan seorang guide bernama Pak Agus. Dia adalah orang lokal yang mampu bercerita panjang lebar tentang Borobudur. Dia membacakan beberapa relif buat kita and he speak english.
“ini relif tentang Keluarga Berencana” kata Pak Agus sembari menunjukkan gambar pasangan keluarga berencana
lalu sebaliknya ada
“Ini relif tentang kehidupan inses yang dilarang.. karena akan menghasilkan anak-anak yang berpenyakitan”
Jadi kedua relif dipisahkan dengan sebuah pahatan pohon.
“Jadi Pak Harto ngambil ide KB dari sini ya pak?” tanya saya.
“Bisa jadi!”
Lalu ada relif yang bercerita tentang kehidupan hewan yang menginspirasikan manusia jaman dulu dalam bertindak. Seperti gambar seekor kumpulan monyet yang ketika akan dipanah oleh seorang raja, lantas satu ekor monyet mencoba menginstruksikan agar monyet yang lain untuk bekerjasama agar menyelamatkan diri.
“Disini, dicoba digambarkan bahwa seorang pemimpin seharusnya menjadi seorang yang bisa menyelamatkan rakyatnya”
Lalu ada relif tentang betapa kegiatan gosip itu sangat buruk dan kebalikannya mengajarkan bahwa berdiskusi tentang kebaikan adalah sebuah hal yang harus dipupuk. Anjis!! Keren!
Ada banyak yang bisa dipelajari dari sebuah candi. Kearifan lokal yang dilupakan oleh orang Indonesia yang kini sok-sok modern.. dasar the village people.. hehehe.
Yang buat saya kesal adalah kelakuan wisatawan yang manjat candi, padahal dilarang. I mean, what is this?? Uncivilized sekali?? Dan ada tuh orang Jepang/Korea yang melakukan hal itu. Selesai sesi foto-foto maka kita kasi uangRp.50.000 kepada si Pak Agus, sesuai perjanjian.
“Tip nya mana?”
Idih kok gitu? maksa lagi… Ya udah karena dia sangat informatif, kita kasi ekstra Rp.20.000. Borobudur benar-benar memberikan suatu ilmu yang sangat mendalam sekali tentang keadilan, kearifan, dan masih banyak lagi. Saya sangat tertarik dengan hal ini dan semoga bisa banyak mendapatkan referensi lebih dalam lagi.
Selepas dari perjalanan di Borobudur, maka kita berjalan menuju terminal untuk kembali ke Jogjakarta. Jalannya agak jauh ya, lumayan deh buat olahraga. Sampai di pintu keluar, seperti biasa saya sok tahu, jadinya kita nyasar aja gitu ke arah yang berlawanan dengan terminal. Masuk ke kampung-kampung kecil yang cantik dan bersih dengan pohon-pohon rambutannya yang ranum dan bisa diraih langsung. We did that! Kita ngambil rambutan langsung dari jalan.. seru banget.. Kita sadar setelah bertanya kepada seorang ibu yang sedang menjaga warung.
“Wah, salah dek.. tapi kalau jalan terus bisa nyampe jalan poros Borobudur-Jogja, jadi jalan aja terus”
Serunya adalah, karena nyasar ini kita akhirnya bisa menemukan Candi Pawon yang terletak ditengah desa. Menurut literatur yang saya miliki, candi pawon ini adalah sebuah tempat penyimpanan senjata seorang raja Mataram Kuno bernama Indra. Kewl.. Disana suasana desa jawa itu kerasa banget. Adem Ayem dan bersih. Jauh banget dari kampung-kampung di Jawa Bagian Barat yang kotor. Jalan-jalan mulus masuk desa.. nggak ada cerita lobang-lobang.. bahagia sekali. Mana orang disana ramah-ramah, suka berbagi rambutan dengan hati tulus.. ah..
Hati bahagia mengunjungi candi-candi di Borobudur dan sekitarnya… Banyak yang bisa dipelajari dari sejarah masa lalu negeri ini. Agama dan budaya bukan sebuah penghalang bagi seseorang untuk mempelajari sesuatu. I love this country.. Saatnya bertindak!




Loading...
Hehehe…borobudur indah kan?? Tempat lahir gue tuh…magelang…
Adis™ - February 11, 2008 at 10:36 am
ahh..
situ harusnya bisa mengajak teman2 CA… cahandong.. menghabisi liburan bersama, ndak perlu keluar 50+20 rb,.. selama sama2 bantingan uang makan dan transport,.. ya hayuuk
sayang yak,.. trip nya sebentar saja…
Padahal masih banyak keunikan laen di Jogja, yang justru terlewatkan bagi Wisatawan… SERIUS!!
Paling tidak menjajal Ulen Sentalu dulu – wisata satu tempat untuk seluruh sejarah Jawa
leksa - February 11, 2008 at 11:30 am
eh…doa lo terkabul juga yah, nyasar juga lo akhirnya hehehe
ferli - February 11, 2008 at 1:11 pm
Nyasar? capek?
Yang penting fun! Ya gak gun?
Mbah_Dana - February 6, 2009 at 8:09 am
ya mbah.. hahaha
agn - February 18, 2009 at 11:04 am