Hmm..interesting..
Ooooh, get me away from here I’m dying, sing me a song that set me free..

Into The Sea..

Disini, saya menyaksikan bahwa hidup itu terkadang lebih simple apabila kita memang memagarkan diri didalam dunia yang sederhana. Pulau Pramuka, tempat saya dan beberapa kawan berlabuh sehari semalam dengan santai, ditengah laut yang sepi… Terutama di sore hari pertama dimana saya menyaksikan sendunya hari yang menggelap.. semuanya terefleksi dengan biru seperti perasaan setiap orang yang tengah gamang dan kesepian.. Hanya ada sedikit orang di dermaga, menanti dan menyaksikan datangnya malam.. Ada yang memancing ada yang hanya termenung..

Satu hal yang cukup menyedihkan dari Pulau Pramuka adalah karena ulah orang-orang Jakarta yang brengsek mendatangkan sampah dan limbah ke perairan teluk pramuka yang kaya akan biota laut. Ya, kalian orang Jakarta yang suka membuang sampah sembarang.. Menyedihkan melihat sampah mengapung, padahal dibawahnya terdapat beberapa koral indah dan ikan yang berenang-renang.

Hal ini terlihat ketika kami menggunakan boat kecil menuju beberapa titik snorkeling di subcoral-APL-dan Transplantasi. Kami harus melewati beberapa sampah yang aneh-aneh : mulai dari topi hingga bungkus mi instan. Namun kesemuanya berhasil dilupakan ketika kaki mulai menyentuh laut dan masuk kedasar sana yang penuh dengan pemandangan indah. Ikan-ikan berseliweran dengan ceria. Kontur yang berupa tebing namun tidak terjal membuat gairah itu semakin besar. Indah sekali walaupun sudah ada beberapa karang yang hancur akibat ulah bom ikan di masa lampau.

Ini adalah kali pertama saya snorkeling, sehingga sedikit kesulitan untuk mengatur nafas. Sebelumnya saya pernah mencoba bernafas menggunakan mulut ketika pelatihan keselamatan di laut, dengan menggunakan semacam tabung oksigen yang akan mengisi paru-paru ketika kita tenggelam di laut (though the sea will be absolutely cold) dan memang akan ada tolakkan dulu dari badan ketika udara masuk melalui mulut. Ada rasa mual ingin muntah. Adaptasi itu berlangsung beberapa saat.

Para nelayan kini mengusahakan pembangunan koral-koral transplantasi yang akan dijual ke luar negeri. Sepertinya praktek penggunaan bom sudah lewat ya (semoga). Pembimbing kami : Rohidin mengajak untuk masuk kedalam. Ia sangat jago, bisa berenang hanya menggunakan mask masuk kedalam dasar laut dan mengambilkan Bintang Laut Biru juga lili laut. Baru kali ini saya memegang dua makhluk laut itu. Saya sangat senang.

Di site transplantasi, terlihat beberapa nelayan dan investor mengunjungi taman buatan itu.

“Jangan diinjek ya, kasian nelayannya”

Kami menyaksikan dibawah sana ada beberapa karang yang hidup, mengisi laut. Aduh… cantiknya.. Di site APL, pemandangan juga masih cantik. Sayangnya perairan yang lebih dangkal koralnya sudah hancur lebur. DAMN YOU BASTARD! Disini ada bintang laut berkaki empat yang tampaknya entah terkena mutasi atau cacat. Laut disamping perairan dangkal masih menyimpan koral yang cukup lumayan baik. Kami berenang bersama sampah-sampah yang berlewatan. Saya punguti sedikit demi sedikit sampahnya. I guess we got to do this.. jangan cuman snorkeling doang, tapi bantuin mungutin sampah. Mulai dari botol sampe stereofoam.. Banyak banget dan tidak semua terangkut.. Karena masih ada satu teluk jakarta yang belum disisiri..

Di pulau ini juga terdapat penangkaran Penyu Sisik. Saya sendiri bingung, disebelah mana pulau-kah penyu-penyu itu berlabuh? Pantainya saja sudah tidak ada, terkena abrasi air laut. Ada satu sisi pantai yang lumayan mending karena ditanami magrove seumur jagung, tapi saya masih penasaran dimana penyu-penyu itu menaruh telur-telurnya. Seingat saya memang penyu itu akan kembali ke pantai dimana ia dilahirkan dan salah satunya disini. Jumlah penyu yang ada tidaklah banyak, namun cukup menghibur. Beberapa telur masih dierami didalam pasir. Kalau saja manusia mau sedikit ramah dan tidak seterusnya menjadi benalu bagi bumi ini..

Life is simple in this island. Sepertinya waktu berjalan lebih pelan, warganya kebanyakan tidur jam 10 pagi dan tidak ada kegiatan yang tidak berhubungan dengan laut. Satu yang pasti orang di Pulau Pramuka ini badannya bagus-bagus karena sering berenang dan mereka kulitnya coklat sekali. Dari kecil mereka sudah kental dengan permainan di laut yang menyenangkan, tanpa Playstation dan Nintendo. Kalau dilihat dari segi etnis, maka kebanyakan mereka berasal dari Makassar, Mandar, dan Sunda (?). Aksennya disini bukan Betawi, tapi aksen orang-orang laut ala Makassar. Yang patut diacungi jempol adalah mereka tanggap wisatawan, penduduknya ramah. Kesederhanaan dalam hidup yang tidak terlalu gegap gempita ini membuat darah berlalu sedikit lebih pelan dan tidak penuh dengan emosi. Tidak seperti kehidupan nyata didunia sebelah sana.

Dan akhirnya siang itu selepas shalat jumat kami pulang.. melewati pulau-pulau yang sama, menyaksikan perubahan warna air dari jernih menuju hitam.. melihat dari jauh pulau onrust dan bidadari dari kejauahan, pulau yang penuh sejarah itu..

Langit cerah dan matahari petang mulai menerpa.. saya suka merasa sangat kecil apabila berada ditengah laut, hanya sebuah titik tak berguna yang sekali hempas akan meminta tolong hingga akhirnya mati..

3 Responses to “Into The Sea..”

  1. wuahh jadi pengen snorkling lagi disono :)

  2. hmm… menarik!

    ke wakatobi yuk gun, hehehe

  3. @hangga : silahkan lohh jangan lupa mungutin sampah.
    @ ferli : yuk


Leave a Reply