Sori, tapi tampaknya tidak bisa ke Tiongkok…
Hari ini saya kembali ke Kedutaan Besar Cina di Mega Kuningan untuk mengurus Visa Kunjungan. Ya, bukan gue yang bakalan pergi, but my brother will.. Anyway, hari ini tiba di Mega Kuningan jam 9.00 pagi, lalu parkir di Gedungnya Danamon lalu mulai antri. Disini kita ngantri dibawah terik matahari selama 10 menit lalu diperbolehkan masuk.
Tidak seperti kedutaan Jepang yang rapih dan sistem antrian menggunakan nomor (kayak di bank-bank itu loh), dikedutaan Cina situasinya mirip antrian sembako atau minyak tanah. Crowded. Banyak banget orang yang mau ke Cina. Biaya untuk Visa ke cina sendiri terbagi tiga :
Biasa : Rp. 300.000 (4 hari kerja)
Kilat : Rp. 500.000 (2 hari kerja)
Superkilat : Rp. 600.000 (Sehari jadi bo!)
Namun semenjak tanggal 12 Mei 2008, yang superkilat sementara ditiadakan. Mungkin angka kunjungan ke Cina lagi gila-gilaan (sehubungan dengan olimpiade Beijing 2008?) sehingga kerjaan jadi numpuk-puk.
Anyway, saya ngantri dengan keki dan pegal, karena lama. Selain beberapa maskot Olimpiade Beijing 2008, maka sebenarnya tidak ada yang cukup menarik untuk DILIHAT. Sementara ngantri dalam keadaan bosan (gak bawa musical tool) saya baca-baca dikit booklet kecil yang diedarkan gratis disini. Kebanyakan tentang tourism di Cina, namun yang menarik adalah tentang Tibet. Propaganda melawan Dalai Lama yang mau kebebasan di Tibet. Menurut bacaan itu dikatakan bahwa:
1. Tidak terjadi peningkatan jumlah penduduk di Tibet dari data tahun 1737 hingga 1951 yaitu sekitar 940.000 jiwa.
2. Dibawah pemerintahan feodal Tibet, tingkat produktifitas sangat rendah dan rakyat (disini dikatakan sebagai para golongan budak) sangat miskin sehingga angka harapan hidup hanya mencapai 35,5 tahun.
3. Masalah kesehatan sangat tidak diperhatikan sehingga angka kematian pada kelahiran mencapai 30 orang per 1000 jiwa.
Yang terjadi sekarang (kata booklet ini ya):
1. Semenjak Cina masuk, populasi orang Tibet naik menjadi 2,196 juta orang, meningkat dari angka sebelum okupansi Cina ke Tibet.
2. Selama 40 tahun semenjak 1951 pemerintah Cina mendanakan 760 juta Yuan untuk kesehatan di Tibet.
3. Perekonomian di Tibet naik dengan sangat mencengangkan.
4. Tinggi badan anak di Tibet usia 17 tahun meningkat sebesar 8.1 cm untuk pria dan 8.6 cm untuk wanita.
5. Angka harapan hidup menjadi 65 tahun.
Pemerintah Cina juga berkata bahwa program “Satu Anak Cukup” hanya berlaku bagi bangsa Han, sedangkan bangsa Tibet diperbolehkan untuk mempunyai anak lebih dari satu. Semenjak Cina masuk maka ruas-ruas jalan terbuka hingga total mencapai 21.720 kilometer, sehingga semua wilayah mampu diakses dengan kendaraan bermotor.

Tibet dahulunya adalah sebuah kerajaan merdeka yang mengalami interaksi maupun benturan terutama secara politik dengan dinasti-dinasti yang ada di dataran Cina. Raja Tibet diberi gelar Dalai Lama dimana Dalai Lama yang sekarang, Tenzin Gyatso adalah Dalai Lama ke-14. Dalai Lama adalah pemimpin negara Tibet dan sekaligus pemimpin keagamaan
Tibet menjadi provinsi Cina setelah serbuan tentara merah Cina pada tahun 1950 ke wilayah ini, pada musim gugur 1951 pasukan Cina berhasil menguasai ibu kota Lhasa dan mendongkel Dalai Lama dari kekuasaannya. Dalihnya, Dalai Lama menolak kesepakatan kerjasama bertajuk “Rencana Pembebasan Damai Tibet” yang teorinya nampaknya menguntungkan Tibet, namun prakteknya Cina melakukan penindasan dan pembantaian terhadap kepala suku dan sejumlah pendeta (”Lama”) yang dianggap membangkang, alasan lain Cina adalah “menghapus praktek penindasan bergaya feodalisme” di Tibet. Namun menurut beberapa analis internasional, Cina mengincar kandungan mineral yang terkandung didalam bumi Tibet. Pada tanggal 17 Maret 1959, Dalai Lama berhasil meloloskan diri dari pengakapan tentara Cina ke India oleh usaha pelarian yang dipimpin oleh Gampo Tashi, dan mendirikan semacam pemerintahan pelarian di Dharamsala, India utara sampai sekarang. (Wikipedia).
Menurut tulisan yang saya dapat dari blog ini dikatakan bahwa para Dalai lama yang memimpin Tibet pada masa itu merupakan tuan-tuan yang memperbudak sebagian besar rakyat Tibet yang miskin. Sehingga ketika Tentara Pembebasan Rakyat datang, maka kehadiran mereka disambut meriah. Lain halnya dengan Dalai Lama yang ingin kekuasaannya tetap langgeng dan menolak kehadiran tentara Cina tersebut.
Tapi yang bikin saya pingin ketawa adalah kenapa komparasi tentang sebelum dan sesudah kedatangan Cina dibuat. Pastinya apabila dibandingkan dengan negara Asia lainnya pada era tahun 50-an dimana beberapa negara baru mulai merdeka, tentunya kemiskinan, kelaparan, dkk itu merajalela. So it’s kind-a normal isn’t? Indonesia juga berada pada posisi yang sama bukan pada era itu?
Sebenarnya with or without China saya rasa Tibet juga akan menuju kesana. Seakan booklet ini mencoba mengatakan bahwa “Kalo Cina tidak ada maka Tibet akan terpuruk”. Dan sebenarnya kurang baik untuk meng-iya-kan bahwa Dalai Lama akan melanggengkan perbudakan apabila memang Dharmasala akhirnya benar-benar pindah ke Tibet. Rasanya bakalan dihujat abis-abisan tuh si Dalai Lama, dapet Nobel Prize kok kelakuannya kurang bahenol.
Well, anyway.. Tibet merdeka atau tidak, toh gak ada pengaruhnya sama gue.. ha ha ha ha.. kembali ke permasalahan Visa.
Setelah ngantri cukup lama, ada kali 1 jam.. sampailah saya ke loket penyerahan dokumen. Mbak-mbaknya membaca dan meneliti semuanya lalu berkata:
“Ini reservasi hotelnya mana?”
Saya bilang
“eh.. itu kan?”
Dia jawab
“Wah yang ini nggak bisa, ini mah cuman keterangan hotel doang.. balik aja lagi”
Nah, kan gue bilang juga apa, musti punya reservasi hotel. Akhirnya saya balik dengan dongkol telah berdiri pegal selama 1 jam lebih. Cih..

Loading...
berarti Tibet & Palestina mungkin hampir sama kasusnya kali ya bro?
Asia ternyata ngga bebas visa ya?
kabarihari - May 14, 2008 at 3:24 pm
Untuk orang Indonesia Asia Tenggara bebas Visa, kec : Myanmar & Timor Leste (musti ada dokumen khusus). Tapi siapa juga yg mo ke dua negara itu.. Nah untuk The Rest of Asia : Hongkong, Srilanka, Syria (kalo ndak salah) itu bebas Visa juga.. Ada juga beberapa negara lain di dunia dimana kita ga perlu visa : Maroko, Sychelles, Peru, dll.. Masalahnya negara2 itu kurang populer ya.. hehehehehe…
Paspor Indonesia ini masih belum sehebat paspor Amrik bahkan Malaysia, karena mungkin masih dianggap negara kurang maju.. Jadi takutnya datang kenegara lain buat jadi imigran dan kerja… Sebenernya membuat bertanya juga makna globalisasi.. hahaha..
Situasi di Tibet & Palestina kayaknya tetep berunsur pada hal yang sama : HAUS KEKUASAAN!
agn - May 14, 2008 at 3:34 pm
Lho kalo pegang paspor Amrik ato Malaysia emang dapet fasilitas lebih ya?
denger2 ke Israel juga ngga usah pake visa bro, tapi ngapain juga ke sana ya?
kabarihari - May 14, 2008 at 3:54 pm
Karena Paspor Amerika dan Malaysia itu all access gtu.. kalo paspor ijo kita
http://id.wikipedia.org/wiki/Paspor_Indonesia
bisa dicek disono free visa access nya…
kalo ke israel boleh juga tuh.. jajajajaja..
agn - May 14, 2008 at 4:04 pm
eh siapa bilang ga ada yg mau ke myanmar… tuh si okeu kan bersumanget dgn rotary-nya
btw, udah 1 jam nunggu, ga dapet apa-apa, buat orang lain pula…! tabah ya
niki - May 14, 2008 at 6:25 pm
itu hebat amat bisa posting sambil nunggu 1 jam
hanggadamai - May 14, 2008 at 6:55 pm
ember.. ditambah satu lagi ken, PASPORNYA KETINGGALAN DI KEDUBES! Dimana besok gw harus menggoes becak kesana lagi untuk mengambil paspor itu.. yang lebih menyebalkan lagi adalah kenyataan bahwa si orang yang bersangkutan ini bakalan berangkat tgl 20 May, sedangkan VISA belum ada sama sekali… karena reservasi hotel ini belum juga dikirim dr penyelenggara.. awalnya sih minta invitation letter tapi due to legality problem bla bla gak bisa.. pontang panting deh…
agn - May 14, 2008 at 8:52 pm
kenapa sih kok repot amat ngurus visa ke cina?
gw aja dulu ngga pake embel2 begituan jadi dalam waktu 3 hari, harga biasa lagi.
martha - May 15, 2008 at 5:19 pm
sekarang requirementsnya ditambah, bukan kayak dulu lagi…
agn - May 15, 2008 at 5:21 pm
Si okeu mau mengulangi jejaknya ke Aceh sebagai relawan??
pred - May 16, 2008 at 7:40 am
si okeu sekarang kan “pemburu kepala”…
agn - May 16, 2008 at 11:29 am