Hmm..interesting..
Ooooh, get me away from here I’m dying, sing me a song that set me free..

Bom Waktu

Beberapa tahun yang lalu, tanah tempat kami berdiri dan tinggal adalah sebuah lahan pertanian milik warga kampung di selatan Bekasi. Lalu datanglah para kapitalis yang membeli tanah-tanah pertanian itu untuk dijadikan perumahan warga kelas menengah.

Warga kampung tersebut tidak menjual 100% tanah mereka, sebagian kecil masih mereka miliki. Namun satu yang pasti, mereka tidak memiliki matapencaharian lagi. Mengingat kemampuan terbesar yang mereka miliki hanyalah bertani. Namun bertani tanpa lahan apa artinya? Mungkin uang yang didapat dari hasil menjual tanah itu hanya bisa bertahan beberapa bulan/tahun, entah dipakai membetulkan rumah, naik haji, beli motor, mobil, dll. Nah, mungkin hanya sedikit yang berpikir tentang menginvestasikannya untuk pendidikan? Kebanyakan dari petani itu bekerja menjadi supir angkot atau tukang ojek untuk mata pencahariannya. Ya mau bagaimana, pendidikan mereka tidak siap untuk mendapatkan serangan dari perkotaan yang begitu dahsyat.

Belakangan ini ketika saya memarkirkan kendaraan di kompleks ruko yang ada di jantung perumahan, terlihat sekumpulan anak muda yang berwajah lusuh dan kusam, berpakaian ala The Upstairs yang agak norak, sepertinya doyan mirasantika, bekerja menjadi tukang parkir disana. Sebelumnya hal ini tidak pernah ada di komplek kami dan yang pasti mereka bukan orang-orang komplek. Dari bahasa yang mereka pergunakan, Sunda Kasar campur betawi, dapat dipastikan bahwa mereka adalah generasi kedua dari warga kampung pasca penggusuran lahan pertanian menjadi perumahan. Mereka yang tak berpendidikan dan tak memiliki pekerjaan, terjebak dalam gaya hidup perkotaan dimana mereka seperti berada didalam lingkaran setan yang tak berujung. Mau gaya nanggung, gak gaya gak oke. Pengaruh TV merasuki sanubari jiwa-jiwa yang gampang disulut dengan hal-hal yang konsumtif, namun apa daya kantong tak mencukupi. Yang lebih mengerikan adalah usia anak muda kampung yang menjadi tukang parkir itu semakin muda. Dari awalnya berusia belasan 17-18-19, kini menjadi 8-9-10 tahun.

Saya percaya bahwa mereka akan menjadi bom waktu yang akan meledak dan meresahkan masyarakat. Karena akan ada saat dimana mereka akan menjadi sangat brutal dan sangat membutuhkan uang untuk memenuhi banyak hal dalam hidup. Dan ketika saat itu tiba, entah apa yang akan terjadi. Kondisi perek-onomian bangsa yang masih runyam, ditambah kenaikan harga BBM, tol, dll, akan semakin mendesak mereka untuk pada akhirnya….. meledak menjadi kriminil-kriminil baru yang meresahkan..

One Response to “Bom Waktu”

  1. Pindah yuuuk… Atau bentuk negara baru,gun!! Hahahahaha…


Leave a Reply