Hmm..interesting..
Ooooh, get me away from here I’m dying, sing me a song that set me free..

Jakarta – Bandung dengan motor.

Motor ini harus saya kembalikan ke adik saya di Bandung. Maka hari sabtu kemarin saya memutuskan untuk melakukan road-trip Jakarta-Puncak-Cianjur-Bandung menggunakan motor. Sebenarnya saya sudah mau berangkat semenjak kamis kemarin, tapi gara-gara mau lihat nilai CCF maka saya memutuskan untuk tidak tancap.

Perjalanan dimulai dari rumah ke arah Cibubur. Dari sana ingin ke arah Cobinong. Saya sebenarnya tidak tahu arah, tapi dengan kekuatan perasaan akhirnya sampai di Jalan Raya Bogor menuju Puncak. Cuaca cerah tidak banyak yang mengganggu kecuali kendaraan lain dan bendera parpol yang membuat pemandangan jadi tercemar. Saya pun melintasi Cibinong dan sampai di Kota Bogor. Kota Bogor yang mengaku sebagai kota di dalam taman sebenarnya cukup bagus. Namun saya melihat beberapa permasalahan : Jumlah angkot, jalan bergelombang, dan tanda-tanda pengaturan tata ruang yang bakalan semrawut akan merubah wajah kota ini. Sebenarnya cukup sedih juga melihat bahwa banyak kota-kota di Indonesia berubah hanya demi pendapatan daerah. Memangnya tidak pernah berpikir cara lain untuk meraih uang ya?

Melaju ke Tajur, suasana semakin tidak jelas dan macet. Hingga di Gadog kondisi membaik (sih) tapi tetap angkutan umum itu berhenti sembarangan di jalan yang menanjak tersebut, akhirnya membuat banyak kendaraan terhenti. Ya ampun, wajah Puncak bagian sini berubah ya. Tidak ada lagi rasa klasik masa lampau yang pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Waktu memang bergulir, tapi tidak rela rasanya kalau beberapa hal harus berubah. Antrian panjang juga terkadang terjadi. Manusia semakin banyak dan udara juga tidak sesejuk dahulu. Ekploitasi berlebih yang pada awalnya mengatasnamakan “Mensejahterakan Masyarakat” tampaknya hanya propaganda palsu semata, mengingat semakin terlihat kemiskinan di Puncak. Ironis ya?

Selepas Taman Safari Indonesia (aduhh pengen ke sini) kondisi mulai berubah. Jalanan semakin sepi untuk arah Bandung, sedangkan arah Jakarta dipenuhi oleh muka-muka kesal akibat antrian panjang. Menurut saya satu-satunya alasan pergi ke Puncak adalah Taman Safari Indonesia dan selain itu apakah masih layak untuk menginap satu-dua hari di akhir pekan? Kalau hari biasa, mungkin oke. Nuansa wilayah Puncak setelah melintasi pintu masuk TSI semakin membawa saya ke masa kecil dan udara semakin segar. Bangunan semakin jarang karena kita masuk ke wilayah Perkebunan Teh. Tidak banyak yang berubah disini, termasuk kebiasaan beberapa orang untuk membuang sampah langsung dari mobil ke jalanan. Tunggu! Ada yang berubah!

Saya perhatikan, semakin banyak jumlah orang Arab. Bahkan beberapa toko & warnet mulai menuliskan aksara arab menggantikan bahasa inggris. Padahal beberapa tahun lalu ditemukan mayat orang arab mati kedinginan di Puncak. Anugrah Visit Indonesia Year atau Kawin kontrak? Dipemberitaan telah ditemukan tentang prostitusi legal di Puncak dengan kedok kawin kontrak. Yang pasti makin banyak berseliweran orang Arab dengan ojek disana-sini. Semoga saja benar VIY2008.

Tadinya saya mau berhenti di beberapa titik dan menikmati kabut yang turun di puncak-puncak bukit. Tapi saya melupakan niat itu karena harus sesegera mungkin tiba di Bandung. Turun.. dan menuju Cianjur dengan Gerbang Marhamah-nya. Sepertinya Cianjur mencoba untuk menjadikan kotanya sebagai kota berlandaskan Islam (CMIIW), semua yang berbau Islam sampai anjuran-anjuran terulis dimana-mana (selain keberadaan bendera parpol brengsek itu ya!!!!). Bagus sih, semoga memang benar dijalankan.

Musim kemarau membuat kering lahan padi. Cianjur terkenal akan sawah-sawahnya. Entah apakah karena musim kering sehingga semua menjadi lebih berdebu atau saya menangkap bahwa kota-kota di Jawa Barat itu memang tidak pernah jauh dari kategori kurang terawat? Maksudnya apabila dibandingkan dengan kota-kota di Jawa Tengah yang pernah saya kunjungi, perasaan kondisi lebih teratur deh. I am not sure why.. Jakarta & Jawa Barat memiliki jumlah penduduk yang besar sekaligus memiliki infrastruktur terparah untuk sebuah wilayah yang perkembangannya sangat pesat.

Melewati jembatan bersungai kering dan melintasi perbukitan kapur menuju Padalarang. Kalo nggak salah formasi Rajamandala itu ada disini ya? Musti buru-buru ingat nih yang beginian! Padalarang adalah kota kecil yang seharusnya bisa menggunakan bukit-bukit kapurnya untuk sesuatu yang bersifat lebih ilmiah, bukan dengan merusak bukit-bukitnya dan dijadikan lantai-lantai marmer palsu. Disini juga bisa ditemukan jalur menuju Gua Pawon dimana ditemukan fosil manusia purba yang pernah hidup disisi Danau Purba Bandung. Sebenarnya sudah ada Kelompok Riset cekungan Bandung yang diketuai Pak Budi Brahmantyo, komunitas-komunitas kecil di Bandung yang mencoba menyelamatkan dan mempopulerkan wilayah ini sebagai tempat belajar dan berekreasi dengan tujuan agar bisa menekan keinginan beberapa pihak untuk menghabisi bukit-bukit yang merekam sejarah di batuannya tsb. Ketika saya melewati wilayah tersebut, mereka terus merusak batu-batu itu dan udara di langit padalarang adalah kelabu dan berdebu. Saya tidak tahu tentang kesehatan warga sekitar. Bukit-bukit gersang itu sebenarnya indah apabila kita melihat dari sudut pandang sebuah bentangan alam. Tapi keserakahan dan keinginan untuk mendapatkan keuntungan singkat telah merusak sebagin dari tempat ini.

Sampai di Cimahi, akhirnya di Bandung. Nothing special, kecuali kampanye pilwalkot yang kembali lagi merusak wajah kota dengan pamflet & baligo. Apakah pamflet, sticker, dll itu akan hilang dalam hitungan bulan? Seinget gw, sticker kampanye Megawati jadi presiden taun 2004 aja masih keliatan di Jakarta. Dari jumlah baligo dan pamflet yang ditebar, terlihat siapa sebenarnya yang mengeluarkan modal banyak untuk jadi walikota Dan tentunya setelah terpilih akan ada kemungkinan dia ingin balik modal dong! Hah!

Setelah sampai di stasiun Bandung, saya memutuskan untuk langsung membeli karcis kereta ke Jakarta. Tiga jam kemudian adik dan ibu saya datang. Saya serah terimakan motor dan kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan tersebut saya merasa seperti Che Guevara yang menaiki La Pedarosa II dalam perjalanannya melintasi Amerika Selatan. He he he he..

10 Responses to “Jakarta – Bandung dengan motor.”

  1. ya elah gun… che guevara mah motornya sempat mogok-mogok
    bayangin kalo loe kena mogok di puncak, hihihi

  2. Che?
    Xixixixi…

  3. eh, bodor tuh..masa di cimahi ada baliho dan gambar2 pilkada kota bandung ? gak tau siapa yang bego.. :p

  4. waa jadi inget waktu dulu ke bandung malah kena tilang…

  5. gun, salam ma pa budi kl ketemu..
    oui… tu che agunavara hehe

  6. @ imgar : seharusnya cara bacanya.sampai di cimahi lalu sampai deh di bandung.Nah pas di bdgnya gw ngeliat baligo!

    @hangga :mangkanya nu baleg nyetrinya.. he ha ha ha

    @ osi : wew!!!!!!!!!!! vivala vida!!!!

  7. allow salam kenal…kalo naik motor jakarta – bandung…berapa lama, habis bensin berapa liter tuh…?!?

  8. kemarin seingat saya, naek SHOGUN dari Jakarta full tank dan baru ngisi lagi di Cimahi..

    Kalo masalah waktu, itu tiap orang beda-beda ya.. hehehe.. gw mah max 60KM/Jam jadinya waktu itu berangkat jam 9an sampe di bandung siang jam 2-3 gitu.. semoga membantu!

  9. kalo dari cilandak mau ke puncak naek motor, lewat jalan mana ya? plis help..

  10. cilandak? wah deket bos… elu ke arah pasar rebo aja nanti dari pasar rebo yang perempatan gede itu ke arah bogor.. sampe deh.. lewat cibinong dll


Leave a Reply