Merdeka!
Ok, the long engaging weekend is almost over. Besok sudah masuk hari pertama kuliah di kampus. Di hari senin ini saya agak sedikit mengirit untuk urusan makanan, gara-gara makana Steak Abuba hari sabtu kemarin. ha ha ha, biasa Road Cafe yang 14rb-an dikasih Abuba langsung puasa deh sehari. ha ha ha.. Tapi Abuba itu benar-benar bikin perut jadi kenyang, harga memang tak pernah bohong.
Long weekend ini juga bertambah seru dengan pertandingan final Bulutangkis Olimpiade Beijing 2008. Ganda Putra kita berhasil menggondol emas pertama Indonesia pada 16 Agustus 2008. Acungan jempol euy, nontonnya bikin deg-deg-an. Tapi sayang sekali ganda campuran kita gagal dua-duanya. Satu cuman dapet perak, satunya lagi gagal dapet perunggu. But, that’s fine, 4 tahun lagi bakalan lebih baik.
Ngobrol-ngobrol tentang kemerdekaan, saya ngebeli majalah TEMPO edisi Tan Malaka. Ternyata dia adalah tokoh besar yang terlupakan. Dia adalah sosok yang memiliki ide Republik Indonesia sebelum Hatta atau Sukarno. Walaupun dia adalah anggota komunis, dia masih menyatakan dirinya sebagai Muslim di mata Tuhan. Dia juga yang mengatakan butuh persatuan antara Islam dan Komunis, untuk mengalahkan kaum kapitalis penjajah. Dia bergerak seperti seekor tupai di 2 benua dan belasan negara di dunia, juga dicari-cari oleh Amerika, Belanda, dan Inggris. Belum lagi kemampuannya berbahasa : Minang, Indonesia, Melayu, Tagaloh, Mandarin, Inggris, Jerman, Rusia, dan Belanda. Edan!! Buku-bukunya dijadikan bahan bacaan penting bagi para pendiri negara.
Ketidaksepahaman antara Tan Malaka dan Soekarno berada pada titik dimana Tan Malaka menolah untuk berunding dan ingin terus menerus melakukan perjuangan. Menurutnya, kemerdekaan itu harus diperjuangkan bukan untuk diminta. Seperti yang kita ketahui bahwa Soekarno sebenarnya lebih suka untuk meminta kemerdekaan. Setelah merdeka (yang dimana Soekarno-Hatta dipaksa oleh para pemuda untuk mendeklarasikannya), datanglah agresi militer Belanda. Nah, masih saja Soekarno mau berunding dengan Belanda (sekutu) yang berujung pada penangkapan dirinya. Disini Tan Malaka juga tidak setuju, dia ingin terus menerus perjuangan dilakukan tanpa adanya perundingan sebelum sah bahwa Indonesia itu adalah sebuah negara yang diakui oleh pihak yang mau mengembalikan status Hindia Belanda di tanah Indonesia. Such a man ya..Sedihnya, sang penggagas ini ditembak mati oleh anggota TNI. Ada yang mengatakan bahwa Soekarno telah mengeluarkan sebuah statement bahwa apabila terjadi sesuatu dengan Soekarno-Hatta, pada massa pergolakan, maka Tan Malaka dan beberapa nama akan menjadi penggantinya.
Banyak sekali hal yang tertutup selama periode ORBA. Segala propaganda.. nah, sediki demi sedikit terkuak nih.. Semoga bisa jadi pelajaran untuk kedepannya.. Merdeka!
Loading...
bener2 ya…negara ini banyak ‘menyembunyikan’ dan ‘membelokkan’ sejarah
imgar - August 18, 2008 at 10:08 pm
wah diriku baru tau kang…
ternyata begitu ya sejarahnya..
abis dibuku sejarah g ada..
hanggadamai - August 18, 2008 at 11:51 pm
yah, itulah… sebenernya dr dulu juga indonesia ini masih berkelut dengan masalah2 politik kepentingan pribadi dan golongan.. jd nggak kaget deh sama situasi masa kini…
agn - August 20, 2008 at 11:17 am