Pembicaraan diatas kereta..
Didalam kereta api kelam dan gelap kelas bisnis jurusan Bandung, saya duduk bersama seorang bapak yang dalam usianya itu terlihat sangat senang untuk ngobrol, tipikal orang Indonesia. Dia mengantri dibelakang saya jadi tentunya dia duduk disebelah saya dong..
Pertanyaan pertama dari saya sebenarnya cukup simpel, mengingat dia adalah orang Bandung (dari logatnya ya):
“Dalam rangka apa bapak ke Bekasi?”
Jawabannya kalau diwaktu bisa mencapai 45 menit, panjang banget. Dia bercerita tentang rencana perceraian anaknya di KUA Bekasi, perebutan anak dan hak asuh, kecewa karena 10 tahun yang lalu anaknya menikah diusia muda (23 tahun), cekcok dengan besannya, pengacara sang istri yang membuat panas suasana, dll.
Terkadang saya suka males menjadi ember untuk permasalahan orang lain, karena sudah terlalu sering dan bikin pusing kepala. Untungnya, dia tidak ada hubungan keluarga dengan saya, jadi setelah kereta 3 jam ini, selesai sudah!
Pembicaraan dengan bapak-bapak pensiun usia 60an ternyata memang tidak pernah terlepas dari membangga-banggakan anak. Ternyata ini adalah hal yang umum berlaku di kalangan orangtua. Sesuatu yang saya anggap tidak begitu penting atau mungkin karena usia saya masih 24 tahun, belum menikah, dan belum mempunyai anak? Entahlah, biar waktu yang menjawab.
“Anak saya yang pertama tuh lulusan POLMAN, terus bulak-balik Jepang untuk training. Kerja di perusahaan Jepang yang akhirnya bubar dan sekarang kerja di Pulogadung di perusahaan Perancis. Kemarin baru balik dari Eropa, keliling beberapa negara. Dia nerusin S1-nya di Jakarta (was it UI?) lalu S2nya di Australia”
I almost cut my wrist to hear such thing, ha-ha, tapi saya mencoba untuk bersabar dan menerima kenyataan bahwa dia duduk di sebelah saya untuk beberapa jam kedepan. Saya hanya menjawab “ya.. ya” sambil mengangguk dan tersenyum ketika ia menekankan beberapa kata yang disana ia meminta sebuah persetujuan.
Ketika ia berbicara sangat panjang, terkadang kepala saya mengembara jauh ke Flores, melihat padang-padang rumput menguning yang indah dan gersang. Mata saya masih mengamati si bapak, mengamati perubahan ekspresi yang mengharuskan saya kembali ke dunia nyata, diatas kereta api.
Saya tidak memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut keriput itu dengan seksama, untuk itulah ketika muncul jeda waktu hening, saya mulai mencoba mengalihkan pembicaraan. Bodohnya, saya menanyakan pertanyaan yang sudah saya tanyakan di bagian awal pertemuan kami. Pertanyaannya itu sangat simpel dan tolol,
“Ehh… bapak rumahnya di Bandung sebelah mana?”
Ketauan banget ya kalau gw nggak nyimak.. hahahahhaa..
Bapak itu sempat menanyakan tentang keluarga saya tentunya. Dia tanya tentang kakak saya, saya bilang mau menikah bulan depan, tentang gw-bla-bla, lalu nanya adik saya kuliah dimana. Pas dia nanya bilang adik saya kuliah dimana, saya bilang UNPAD. Terus dia nanya di Jatinangor ya? Saya bilang yang di Dipati Ukur. Terus dia bales lagi, oh yang di Dago, D3 ya?
Awalnya saya pikir DU kan Dago juga ya? Tapi lama-lama gw kesel juga dengan kesan yang bahwa cerita hari ini tidak boleh melebihi dari cerita dia dengan anaknya yang D3 Polman, terus ke jepang bulak-balik, ambil S1 di Jkt, terus S2 di Australia, terus kerja di perusahaan perancis, diangkat jadi menejer termuda, bla bla, baru balik dari Eropa, maka saya bilang : “Oh adik saya S1 pak, bukan D3″ Itu aja sih, gw rasa nggak enak juga mencoba mencerminkan diri menjadi si bapak itu.. hehehehe..
Ketika bapak itu sudah habis bahan pembicaraan, tentunya ia juga sudah memasukkan cerita tentang anak perempuannya yang bungsu lulusan Sastra Inggris UNPAD terus mau kerja di Arab Saudi (bukannya wanita dilarang kerja kantoran di arab saudi?) dan mencoba menutupi kenyataan bahwa anak keduanya kurang sukses dari kedua yang lain, maka saya merasa inilah saat yang tepat untuk mengundurkan diri dari pembicaraan dengan cara klasik. Tidur.
Pertama, mata agak disipit-sipitkan sambil menatap kegelapan di luar jendela. Lalu sedikit demi sedikit tutup mata.. Mengingat saat itu saya nggak bisa tidur, maka saya mengamati si bapak, apakah ia ikut tidur? Penyakit tidur ini menular bukan? Setelah saya amati perlahan, ternyata bapak ini tidur, langsung saya ambil perangkat mp3 dan buku. SEEEET! Selesai! Sampai Bandung jam 8 langsung bersalaman dengan bapak itu
“Semoga sukses dengan pengadilan anaknya ya pak, saya doakan yang terbaik”
Loading...
hwahaha….!! kocak banget sih.
jurus pura2 tidur… klasik!! and (thankfully) effective…
hanum - October 9, 2008 at 7:59 pm
biasa sebelum dilakukan pertanyaan basa basi pertama..saya udah pasang earphone dulu. jadi gak ada kesempatan ngobrol.. :p hoream..mending tidur..
imgar - October 10, 2008 at 5:24 am
emang klasil banget kan num, tidur.. cara terbaik.. hehehe.. Apalagi kalau bahan pembicaraan sudah habis!!!!!!
Tadinya saya juga gitu gar, namun nggak enak euy, sepertinya si bapak perlu tempat untuk mencurahkan isi hatinya.. (huehuehuehue)
agn - October 10, 2008 at 1:23 pm
mas anggun selamat idul fitri^^
ih aku kalo naik KA selalu dapet kenalan baru cowo ganteng, hihihi.. rejeki emang gag kemana.. jadi seneng2 aja kalo diajak ngobrol ^^
dian - October 10, 2008 at 1:59 pm
cie, rejeki emang gak pernah kemana2 ya mbak… hehehehe..lain kali pasti duduk disebelah sayaah.. hehehe
agn - October 10, 2008 at 2:55 pm
Saya juga paling malas bicara dalam perjalanan, pengen tidur atau melamun saja….
tengkuputeh - February 3, 2009 at 8:55 pm
HAHAHHAAHA…COOL POST U GT HERE..n_n
anyway, I used to be that way;like d old TALKATIVE man, until people began assuming ‘I-thought-I-was-better-than-they’.
Now, I just smile, say “fine” n go about my business.
some Indonesian, ok, most of them, r people that know not only everyones names, but also the names of their parents, kids, dogs and spouses. and d culture forces me to b d one.
but enough is enough. now I don’t like the obligation to hv some fake generic conversation every time im in a train.
I understand if sm1 say hello and discuss A BIT of his life, that’s ok. He might b friendly and has no problem letting the world know about the life in general.
but For the love of chineese food, let me just sit comfortabely n having a quality time of my own in peace!!!
it may seem mean, but really it’s my inability to have uncomfortable small talk. It makes me feel my ear gets fat. My throat goes dry and my nose runs.
It may be a medical condition so really instead of thinking I’m mean you should feel sorry for my condition. Maybe even send me a get well card, hhhmm hmmm hmm (see, nw im starting again d culture of indonesian people: being so talkative, in ur site)
ratunida - February 23, 2009 at 12:52 pm
Well, I assume small inchies of conversation will be alright. But, I don’t really have any problems if the topic is related with my interests in life. egois beeeeeeeeet gw! hahaha
agn - February 23, 2009 at 5:07 pm