Voila! Voila!
Yang cukup menyebalkan kemarin adalah kenyataan bahwa ibu saya menelepon dan menggambarkan kekhawatiran tentang masa depan saya yang buruk dan mengatakan kurang lebih mengambil kuliah S2 adalah jalan yang tidak cerdas karena akan sulit mendapatkan kerja di masa depan dibandingkan anak S1. Jadi dia mengharapkan bahwa saya harus cari kerja sambil ekstensi S2. I was like : Ekstensi? WTF is that?. Dan ini semua gara-gara ayah saya menghadiri arisan dimana dia bertemu dengan this unknown guy from Palembang yang mengaku kerja di pertambangan. Lalu dia berkata bahwa tidak mudah untuk mendapatkan kerja dalam situasi S2.
Sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang baru mengingat keluarga saya (entah kenapa) selalu menganggap saya sebagai manusia yang selalu dalam kondisi “sulit dipercaya untuk bisa sukses”. Salah satu contoh paling besar yang pernah gw rasakan adalah ketika UMPTN tahun 2001. Jadi strategi saya adalah ikutan UMPTN + tes Universitas Parahyangan. Setelah melalui kedua tes tersebut, ibu saya bilang,
“Kayaknya kamu harus ikutan tes universitas yang lain lagi deh, takutnya nggak lulus dua-dua-nya”
Lalu dia menyebutkan Universitas Pasundan. Saya sendiri baru denger nama itu Universitas pada saat itu dan mengira lokasinya itu ada di Sumedang, Garut atau daerah selatan lainnya. Dan kenyataan bahwa rektor Unpas waktu itu adalah temannya bapak saya semakin meyakinkan ibu saya bahwa saya pasti lulus disana untuk tes gelombang ketiganya. And I was like “Oh, C’mon…”. Dan ternyata? Voila!! Lulus dua-duanya bahkan..
Dan itu bukanlah satu-satunya cerita tentang bagaimana keluarga gw nggak pernah percaya akan kemampuan saya. Agaknya hal itu pernah sedikit mempengaruhi rasa kepercayaan diri saya untuk bisa mandiri. Satu fase didalam hidup saya menjadi berubah semenjak saya tinggal di Bandung, ketika saya jauh dari kekapan orangtua saya dan mulai menjalani semuanya secara sendiri, dimana rasa kepercayaan diri itu tumbuh. Dan saya bersyukur dulu pindah ke Bandung, kalau nggak mungkin masa depan gw bener-bener suram karena berada dalam dekapan orangtua saya.
Dalam sebuah artikel yang saya baca di Kompas tentang mengajarkan kemandirian kepada anak semenjak usia dini dikatakan bahwa orangtua harus mulai mendidik anak untuk mandiri dengan cara-cara sederhana seperti membantu merapihkan kamarnya sendiri, dll. Dikatakan juga bahwa hal ini akan membantu mereka dimasa depan untuk tidak putus asa dan depresi. Tapi menurut apa yang saya rasakan bahwa ternyata memang sang orangtua lah yang tidak ingin “melepaskan” anaknya untuk menjadi mandiri. Mungkin karena faktor kasih sayang atau hubungan emosi anak-ortu, tapi yang pasti hal ini adalah faktor terbesar yang ada di Indonesia tentang kemandirian seorang anak.
Bingung nggak sih? Disatu sisi kita nggak bisa menjadi manusia-manusia barat yang dengan seenaknya bisa meninggalkan hubungan dengan keluarga secara semena-mena, namun disatu pihak kita juga ingin mencoba untuk merasakan kemandirian dalam hidup, ingin merasakan pahit manisnya pengalaman, dll.. Tapi ketika orangtua kerap datang untuk mengintervensi gerak kita, semuanya menjadi sedikit menyebalkan.. Karena seakan kita terus diatur, walaupun kita telah berusia cukup TUA!
Ini mungkin yang disebut benturan antar generasi. Generasi baru yang ingin bebas dan generasi orangtua kita yang menginginkan agar kita terus ikut dalam aturan yang dimana mereka rasakan sewaktu muda dulu. Yang lucu adalah kenyataan bahwa pendidikan bukan menjadi penentu bahwa seseorang itu bisa bersikap demokratis kepada anak-anaknya. Buktinya tukang pijet yang kemarin gw datengin barengan sama orangtua gw berpendapat bahwa,
“Anak-anak itu biarkan bebas, sesuai apa yang mereka inginkan. Kalau mau kawin usia 35 tahun juga terserah toh itu hidup mereka juga”
Pak Zul ini emang bukan sembarang tukang pijet, karena dia ngerti obat-obatan dan kesehatan. Anak-anaknya juga kuliahan semua…. JE VEUX LIBRE!
Loading...
wkwkwk, disatu sisi lucu, dsisi laen gw jd teringet kasusnya gw sndiri. Emang, orangtua itu sering gaq sinkron ngomongnya, diskali wktu nyuruh kita mandiri, tp di wktu lain mrasa sulit mlepaskan kta
mi - November 11, 2008 at 3:14 pm
ah, itu kan perasaaan dek agun saja
Fahdi - November 12, 2008 at 8:59 am
la la la..
agn - November 14, 2008 at 1:40 pm