Kota Sumenep.
Okey, saya akan teruskan cerita perjalanan selama 8 hari di akhir tahun 2008. Seperti yang telah diketahui bahwa tujuan utama di Madura adalah Kota Sumenep. Kota ini adalah sebuah bekas kesultanan yang merupakan satu dari 4 kesultanan yang pernah ada di Madura. Dari empat tempat yang ada di Madura, maka sisa peninggalan kesultanan masih terlihat dengan mencolok di Kota Sumenep.
Sumenep menurut saya adalah sebuah kota kecil yang santai dan menyenangkan. Semuanya disini berjalan dengan pelan. Apabila kita berjalan ke pusat kota (dimana Taman Adipura berdiri) maka dengan cepat orientasi kita akan tertuju pada sebuah gapura berwarna kuning-putih, sebuah gerbang masuk menuju Masjid Agung Sumenep yang katanya salah satu masjid tertua di Indonesia (kalau nggak salah abad 16). Masjid ini menunjukan pengaruh kuat Cina, Eropa, dan Arab.

Lalu berjalan ke arah timur, maka kita akan menuju Kraton Kesultanan Sumenep yang sayangnya agak kurang terawat. Bahkan tiket masuknya hanya Rp.1000, which is menurut gw sangat terlalu murah. Padahal disini ada guide yang membantu kita untuk menerangkan sisi-sisi kraton, mulai dari ruang utama hingga Taman Sari-nya. Didalam kraton sebenarnya menurut pendapat pribadi saya, terlalu tidak terawat, padahal kalau saja kita sadar akan warisan sejarah ini…
Didalam kota Sumenep kita bisa melihat bahwa terdapat sisa-sisa masyarakat Arab yang tinggal disana. Biasanya mereka terlihat mencolok berbeda dengan suku madura yang merupakan suku asli pulau tersebut. Hal ini menunjukan sejarah panjang hubungan antara Madura dengan dunia luar dan tentunya menjelaskan mengapa Islam sangat kuat bercokol di Pulau ini. Yang juga sekali lagi mejelaskan keberadaan pesantren-pesantren besar yang gw liat disepanjang jalan menuju Sumenep.

Di tengah kota ada restoran eskrim yang sederhana. Tidak begitu laku namun tampaknya menjadi salah satu resto paling mahal dikota ini. Resto ini terletak didaerah Taman Adipura yang juga menampung beberapa PKL. Walaupun berPKL, namun jumlah mereka tidak sebanyak di Bandung yang semrawut itu.
Apabila kita menuju 3 KM luar Sumenep, maka dengan mudah kita bisa menemukan Astana Tinggi, sebuah kompleks pemakaman orang-orang bangsawan Sumenep yang terletak di bukit kapur. Tempat ini masih ramai dikunjungi para peziarah makam. Kalau masuk sandal harus dilepas. Tempat ini luar biasa unik dan mistik. Selain karena pemakaman ini sangat luas, juga menampung gerbang-gerbang raksasa yang indah dan sebuah bangunan utama yang berkubah besar dengan gaya arsitektur yang bercampur-campur lagi. Gw nggak tau apa gayanya, tapi Eropanya keliatan banget. Suasana menjadi sangat rumit antara mistik dan unik.

Sumenep masih sangat jarang dikunjungi wisatawan, yang tentunya sesuatu yang sangat disayangkan. Dengan potensi yang besar, seharusnya ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk kota ini.
Loading...
tp terlalu byk wisatawan jg jd menyebalkan, segalanya serba mahal dan komersil, seperti di thailand sini, cih…
niki - January 7, 2009 at 9:58 pm
emang sih, wisatawan itu merusak aja deh… lihatlah bali…
agn - January 8, 2009 at 2:31 pm
dirimu kan juga wisatawan..
ferli - January 9, 2009 at 10:21 pm
Akulah Orang Sumenep….. sekarang mulai menjadi asing di sumenep karena banyakmnya pendatang yang berkuasa
Muktir Rahman Syaf - April 20, 2009 at 5:45 pm
@ ferli : bener juga lu… hahaha..
@ Muktir : menurut saya, dijaman skrg ini untuk bersaing dengan orang lain kita nggak boleh mengeluh. Harusnya kemunculan “pendatang” itu membuat masyarakat setempat harus semakin kreatif agar tidak “tergilas”.. begitu?
xyz - April 21, 2009 at 12:09 pm
kata mengeluh tapi untuk bangkit..????
bukan cuman Q yang ngerasa terpinggirkan. mereka yang sama goblobnya ma Q, SDM tidak memenuhi kebutuhan zaman, ditinggal jauh dan mulai terasingkan. karena pengisi kota sumenp adalah orang pinter yang lahir dari luar kota sumenp.
Muktir Rahman Syaf - May 1, 2009 at 11:13 am
?
xyz - May 2, 2009 at 9:40 am