Impulsive Runner : Baluran (part2.withalltheconversation)
Surabaya panas dengan pencakar-pencakar langit barunya. Saya turun di luar terminal Bungurasih dan menemui Jojo. Dia adalah teman yang saya kenal via Multiply (funny how internet connect people nowadays). Lalu setelah pembicaraan sedikit kami melaju ke Situbondo dengan bus tarif Rp.38,000. Pada awalnya sempat juga kena tipu oleh supir bus ekspress tujuan Bali yang bilang hanya bus dia yang lewat Situbondo sedang yang lain muter ke Jember lalu ke Banyuwangi. Dia pasang harga Rp.110,000. Untung kami melakukan pengecekan harga dulu ke bus yang lain.
Bus berjalan pada pukul 12.30 siang dan melintasi lumpur porong, lalu Pasuruan, Probolinggo. Dari Probolinggo kita bisa ke Gunung Bromo yang ternama itu. Udara cukup panas dan lengket, ciri khas bus ekonomi minus AC. Aroma rokok menyengat, karena mereka memang tidak terbiasa dengan peraturan bahwa di kendaraan publik tidak boleh merokok. Saya duduk di kursi panjang bagian paling belakang.
Tiba-tiba seorang tukang asongan bertanya kepada saya dengan Bahasa Madura (FYI, wilayah-wilayah timur Jawa Timur kebanyakan beretnis Madura). Saya bingung. Sebenarnya secara penampakan saya memang sulit untuk dikategorikan sebagai orang Jawa dan memang dengan gaya yang sedikit Jawa Bagian Barat, saya terlihat berbeda sendiri.
Lalu saya bilang kalau saya bukan orang Surabaya.
Asongan : Jadi Mas orang mana?
A : bandung.
Asongan : Mahasiswa ya?
Lalu saya mulai menjelaskan kalau saya mahasiswa geologi mau penelitian ke Baluran. Berbohong demi keselamatan diri. Si pedagang asongan ini tampaknya cukup punya banyak keingin tahuan tentang geologi. Lalu dia bertanya tentang berapa lapisan bumi itu, air tanah, gunung api, dll. Lalu dia mulai mengeluarkan bahasa inggris pas-pas-an nya yang didapatkan selama menjadi guide ke Bromo. Saya sebenernya takut untuk meneruskan pembicaraan dan tidak ingin SKSD dengannya, takut berbuntut panjang, tapi toh udah terlanjur. Lalu pembicaraan terpotong dengan kedatangan ibu-ibu madura. Dia mau ke Situbondo. Ia senang tertawa bahagia. Dalam pembicaraan tentang Gunung Baluran ia beberapa kali menambahkan hal-hal mistik yang cukup mengerikan. Ia bercerita bahwa baru beberapa hari yang lalu ada keponakannya hilang di gunung dan fakta bahwa ia pernah datang ke Gunung Agung untuk berdoa keselamatan.
Paiton!!
“Sekarang sih sudah ndak kuat lagi mas”
Itu katanya.
Kami melewati Paiton yang terkenal dengan PLTU-nya. Gilak! Gede banget!! Lalu melewati pantai-pantai di dekat Situbondo yang warnanya menguning karena sore telah tiba. Si ibu bilang bahwa kami akan sampai di Baluran jam 8, kurang lebih 3 jam lebih lama dibandingkan perkiraan kami. Jojo pun memiliki ide untuk skip Baluran dan pergi ke Bali dulu! Ini cemerlang banget!!! Ha ha ha.. Inilah enaknya pergi tanpa ikut tur, kita bisa buat jadwal mendadak sendiri.. And I love that!!
Jalan Surabaya-Banyuwangi di sore hari…
Si ibu dan tukang asongan turun. Tiba-tiba muncul pria bertopi mancing merah yang duduk di kursi ibu madura. Seraya berkata “Ah lega”. Saya curiga entah kenapa. Insting BOXER saya keluar kalau mengendus bahaya. Ha ha ha.. Si topi merah itu menurunkan topi mancingnya hingga matanya tak bisa saya lihat. Okelah tadi saya ngeluarin kamera untuk foto-foto pantai sehingga mengundang copet mendekati kami. Si topi merah pura-pura ngobrol sama seorang ABRI. Setelah ABRI turun ia berbicara dengan saya. Tanggapan saya dingin. Saya mengamati setiap gerak-gerik tangannya dan matanya juga. Beberapa kali ia seperti ingin masuk ke kantong celana saya dan mengambil kamera. Sayangnya saya lebih sigap. Ketika saya dan Jojo mengganti rute menuju Ketapang, guess what DIA IKUT GANTI RUTE! Gilak!
Akhirnya segala daya upaya orang itu gagal dan ternyata ia turun duluan.. Ha ha ha.. Kami pun terus melaju ke Ketapang untuk menyeberang ke Bali. Dan emang bener, pintu masuk Baluran itu hutan aja (namanya juga Taman Nasional). Gelap, 12 km kedalam naek apa? He he he.. Bus tersebut menurunkan kami di terminal Ketapang dan kami harus naik angkot seharga Rp5,000 ke pelabuhannya. Tau nggak sih Rp.5,000 itu jaraknya gimana? Kayak dari Cikapayang ke Simpang Dago. Gilak!
Dengan pede kami masuk ke Ketapang dengan harga tiket ferry Rp. 5,700 per orang. Lalu mulailah melakukan penyeberangan ke Gilimanuk. BALI HERE WE COMEE!!!
Pantainya lumayan bagus tauu,
Loading...
lanjut dooong!!!
ferli - June 15, 2009 at 4:32 pm