Impulsive RUnner : Baluran (part3.thatearlymorning)
Saya tiba di Gilimanuk sekitar pukul 12.30 pagi. Karena lapar maka kami menyantap pecel pinggir pelabuhan yang kualitas kebersihannya harus dipertanyakan. Si pedagang pun kerap memegang sayur mayurnya dengan tangan kotor tak dicuci. Untuk itu saya mundur dari pecel dan hanya meminta suwiran ayam saja. Bus dari Gilimanuk ke Denpasar bisa dikatakan sudah habis untuk trip antar kota, namun apabila trip dari Jawa ke Bali masih lumayan banyak dan kita bisa menyetopnya tepat di pelabuhan.
Bus yang kami naiki cukup penuh dengan manusia dan asap rokok. Yang saya tangkap dari bus ekonomi memang dipenuhi oleh orang-orang yang berkaus kutang dan merokok. Wajah-wajah letih menikmati jalur transportasi darat termurah ini sangat menyedihkan : berkeringat, muka berminyak, dan tampak ingin istriahat namun tak bisa. Supir bus berjalan dengan sangat ngebut sehingga membuat tegang setiap penumpang, terutama setelah ia dengan sukses menabrakan spion kirinya ke truk yang mau disalip. Jalan di Bali cukup mulus, bahkan sangat mulus. Dengan pura-pura kecil di sepanjang jalan dan bebungaan, cantik. Sesekali terlihat masjid.
Kami tiba di Ubung jam 14.30 pagi dan tidak tahu harus kemana. Mengingat Rizki (teman gw) yang bisa ditumpangi tidak aktif-aktif juga teleponnya. Kami menanyakan arah ke Kuta, untuk mendapatkan penginapan di Gang Poppies yang ternama itu
“Jauh mas..”
Mungkin sekitar 30 menit itu pun naik motor.
Supir-supir taksi dan ojek terus mengusik kami, higga akhirnya kami berjalan kaki aja dari Ubung ke Kut hanya dengan menggunakan petunjuk papan DLLAJR yang mengarahkan ke arah Kuta/Legian. Berjalan di pagi-pagi itu cukup mengerikan sebenarnya dengan pelacur-pelacur yang menghiasi Jalan Gatsu. Ngaku-ngakunya jual kopi, tapi plus biatch juga. Nah setelah 1 jam berjalan kaki, suara pantai masih nggak kedengaran juga. Kami sudah masuk ke jalan-jalan yang lebih sempit dan melihat berbagai macam pura dari yang kecil hingga yang besar. Sedikit kesal, maka kami pun memutuskan untuk menggunakan ANGKOT dengan tanpa tahu arah gitu. Asal nyetop.
Di atas angkot, kami bertanya pada seorang ibu tua kemana arah Kuta (such a tourist). Dia bilang kita salah arah. Damn!! Walhasil kami turun di Jalan Gajahmada dan disuruh untuk meneruskan dengan angkot warna biru. Kami jalan memasuki paar pagi dimana para penjual bunga-bunga segar mulai aktif. Cakep banget dah! Kami menemukan angkot yang mau membawa kami ke Kuta dengan biaya Rp.5000. Beuh..
Sepanjang jalan saya mengantuk dan mata saya perih..
Terbangun di Poppies Lane dalam keadaan bego dan masih disorientasi. Jam 5 pagi sodara-sodara.. Masih ada turis-turis bule miskin yang mabok disana. Kami diturunkan di ujung poppies lane dekat dengan monumen bom bali. Sambil menelusuri poppies lane 2 untuk mencari penginapan, kami diganggu oleh turis-turis bule miskin yang mabok seraya melempari kami dengan roti kering. Sialan! Tadinya mau di middle finger–in tapi saya lagi capek. Penginapan demi penginapan kami lalui, penuh atau terlalu mahal. Dan setiba di ujung Poppies Lane 2 kami pun pasrah kepada YME dan memutuskan untuk ke Kuta melihat bulan purnama yang gede banget. Beberapa bule berenang bugil. Sayangnya yang cowok doang. Ha ha ha..Eh eh eh.. siizki bisa nyambung teleponnya. Dan dia dengan kaget berkata,
“BOOONG LUU!!”
Beberapa hari sebelumnya saya mengutarakan akan pergi ke Bali namun nggak jadi karena jadwal yang sulit, sekarang udah di Bali ajaa.. Ha ha ha.. Ah.. Capek awak…
Loading...
ya ga heran kah kalo dia ga percaya, hahaha
lanjut dong
ferli - June 16, 2009 at 8:47 am
Sundul lagi Gan!!..
Galih - June 16, 2009 at 4:27 pm
sundul gan..
xyz - June 18, 2009 at 8:00 am