Impulsive Runner : Baluran (part4.GWK_DreamLand_Legian)
Tiba di rumah Rizky jam 6 pagi dengan supir taksi yang tidak tahu alamat. Untungnya saya sudah khatam menonton Amazing Race sehingga bisa mengatasi hal-hal tersebut. Rizki menyambut dengan hangat dan menghidangka pisang goreng di pagi hari itu. Hal yang tidak bisa ditunda adalah MANDI! Oh, rasanya badan ini lengket-lengket semua. Juga ingin tidur dengan segera karena lemah letih lesu.
Siang hari, saya ke warnet! Ha ha ha.. Untung sih gw ke warnet, karena bisa jadi nilai Geotektonik gw terancam nggak dapet A karena permasalahan email yang tidak terkirim ke dosen. Gilak, saya sudah di Bali, masih belum percaya mengingat terakhir ke sini adalah SMP? Udah lama banget deh. Sambil menunggu Jo terbangun dari tidur, saya telepon lah rental motor yang ternyata hampir semuanya penuh. Hingga akhirnya ada satu bapak ini gw lupa namanya yang bisa menyewakan motornya ke kita, sayangnya motor itu adalah MIO.
Kita pun jalan-jalan berdua gitu naek motor mio. Anehnya, sepanjang jalan, suka ada orang-orang nggak jelas yang ngaku sebagai turis guide nyamperin! Ganggu banget!! Denpasar pada saat itu cerah ceria, matahari bersinar terik dan saya tak sabar untuk merasakannya. Tujuan awal kami adalah Garuda Wisnu Kencana yang berada di kawasan Pecatu. Kita basically nyasar. Berputar-putar melewati banjar-banjar kecil yang cukup menarik untuk dilihat. Kawasan selatan Denpasar ini cukup berbukit dan gersang. Kayaknya batugamping gitulah. Setelah beberapa kali nanya akhirnya kami berhasil masuk ke GWK dan bayar Rp.20,000 (kalo nggak salah). Bagian depan GWK kurang terawat, namun bagian dimana terdapat patung raksasa itu masih cukup ramai. Termasuk kunjungan anak-anak SMP.
JUMP!
GWK zona inti ini mengingatkan saya pada film-film mexico, dimana rumah-rumah berwarna terakota yang tersusun apik. Lalu ada beberapa tempat dimana kerap diadakan pagelaran budaya gratis. Sayang kita datang terlalu pagi sehingga acara tari kecak gratis nggak bisa kita saksikan. Lotus Pond adalah zona luas dengan padang rumput dan dinding-dinding batugamping menjulan tinggi kotak-kotak dipotong oleh manusia. Di ujung atas terdapat wajah Garuda raksasa dan sedikit naik keatas maka akan bertemu bagian badan Wisnu yang tak bertangan. Disinilah saya baru menyadari setting-an kamera SLR saya tidak cocok. Cih!!!
Setelah beberapa episode foto lompat kami pun pulang dan mendapatkan ban mio kami GEMBOS! Jadi dibawa jalan aja ke pintu keluar yang ada kali 1 KM. Cih! Setelah ditambal dan menghabiskan beberapa lembar rupiah, lanjut dong ke DreamLand!
Dreamland dawn..
Masuk ke Dreamland bisa dibilang susah. Selain medan naik turun juga ternyata Pantai Dreamland ini masuk dalam sebuah kawasan resort yang belum jadi. Jauuh banget dari pintu utama, kebayang kalau nggak punya kendaraan pribadi. Pantainya sendiri OK, tapi sayang ada hotel gede yang nggak penting mengganggu suasana. Saya tiba terlambat. Gara-gara flat tires brengsek.
Bisa dibilang saya capek banget dah naek si Mio, karena emang banyak jeleknya untuk menghadapi medan di Bali ini. Kami pun pulang setelah menyaksikan pantai menjadi gelap dan semua orang mulai bergegas pergi. Perjalanan ke Denpasar ternyata cukup jauh.
Poppies Lane 2
Legian di malam hari itu seperti Mecca di ArabSaudi pas musim haji. Rame. Semua pusat perbelanjaan dan pub buka. Gadis-gadis berpakaian mini menawarkan para pengunjung untuk masuk ke tempatnya, tentunya orang bule menjadi prioritas pertama. No wonder lah.. ha ha.. Monumen bali bomb bisa dikatakan menjadi pusat atraksi baru di Legian. Kami yang miskin hanya bisa berjalan sambil mengelus dada dan ditawari jasa tukang pijet plus-plus oleh anak-anak dibawah umur. And we were soo damn tired..ha ha ha..
Loading...