Hmm..interesting..
Ooooh, get me away from here I'm dying, sing me a song that set me free..

Impulsive Runner : Baluran (part5.hot_then_rain)

Mungkin sebagian mulai bertanya, “Ok man, where is the part with BALURAN on it”, karena sepertiya saya malahan meriview Bali. Well, just wait and see lah..

Hari selasa, motor Mio itu masih ada di rumah dan kami bersiap untuk kembali menuju berbagai tempat di Bali. Kali ini tujuan pagi-pagi sekali adalah Taman Ayun yang merupakan bagian dari sisa kejayaan Kerajaan Mengwi di Bali. Sungguh mengangetkan kalau Bali ini (sebuah pulau sekecil ini) memiliki beberapa kerajaan yang sempat jaya-jaya di masanya. Menuju Taman Ayun bisa dikatakan cukup mudah, namun melelahkan mengingat kami menggunakan Mio dan pantat ini rasanya mengkerut. Melewati jalan utama Gilimanuk-Denpasar, kurang meyenangkan karena banyak bus besar, namun seketika kami memutuskan untuk masuk ke jalan-jalan banjar yang lebih sepi suasana itu berubah.

Picture 225Penduduk sekitar.

Inget nggak sih jaman-jaman ketika semuanya itu damai dan tentram? Saya punya memori ketika tinggal di Lombok. Gang kecil di tempat saya tinggal berisi kan orang-orang dari berbagai belahan nusantara yang beda budaya namun saling membantu. Hal tersebut saya temui di banjar-banjar kecil disini. Rumah-rumah disini seakan masih kuat menjaga ciri khasnya dengan pura dan arsitektur khas Bali. Terjaga kebersihannya juga. Lalu selalu ada pura besar yang menjaga banjar-banjar tersebut dengan sangat menyenangkan, bahkan sebagian juga sudah berusia tua. Beberapa balai desa masih dipergunakan dengan maksimal oleh warga sebagai sarana bekerja sama dan berdiskusi. Hal-hal kayak gini nggak bakalan jamak di Jawa Barat.

Pemandangan sawah terjaga disepanjang jalan dengan regulasi pemerintah daerah yang mengharamkan pembangunan disepanjang jalan, gw rasa hal itu brilliant banget.

Kami tiba di Taman Ayun yang suprisingly, kita nggak bayar parkir sama sekali. Mungkin these pictures will tell you the story lah ya..

Picture 194Green-green grass.

Picture 175With the tample and stuff.

Setelah Taman Ayun, kami meneruskan perjalanan dengan Mio menuju Sangeh untuk mengunjungi kerabat terdekat manusia. Sangeh on my mind agak sedikit berbeda dengan apa yang terlihat saat ini. Well, terakhir kesini pas SMP gitu lah. Monyet-monyetnya tidak begitu banyak namun tak se agresif yang dulu. Beberapa turis asal Rusia tampak bahagia dan terhibur ketika mendapatkan godaan dari monyet-monyet tersebut. Pohon-pohon pala yang menjulang tinggi tampak melindungi pura di tengah hutan sangeh. Sinar matahari memasuki celah-celah pepohonan dan menyinari pura yang membuat suasana menjadi sangat ajaib. Saya takut sama monyet, karena dulu pernah dicakar pas masih SD disini.. igihihih.. Hal yang membuat cukup kesal di Sangeh adalah ketika kita keluar dari wahana wisatanya. Kita digiring ke sebuah maze toko suvenir yang cukup panjang dan melelahkan. We had to smile all the way..

Picture 240Sangeh! Right where the monkey at!

Dari Sangeh kami cabut ke Bedugul. Baju tangan pendek yang saya kira akan membantu proses penghitaman lengan atas menjadi sebuah kesulitan baru, mengingat udara makin dingin. Dari panas menjadi dingin. Ke arah Bedugul dengan motor NOT FUN AT ALL! Maksudnya kondisinya sangat melelahkan, pemandangan sih ok. Kami makan siang di sebuah rumah makan yang disebelahnya ada masjid. Tapi gw sendiri gak paham apa RM nya halal atau nggak.

Picture 281Sound of solitude..

Bedugul ditempuh AKHIRNYA! Yang cukup mengejutkan dari kawasan wisata Danau Bratan adalah kehadiran ponpres di sampingnya. Gwahaha.. cukup mengejutkan dan aneh dan nggak nyambung. Lalu kita masuk ke daerah wisata itu dengan bayarRp.7500 parkir Rp.2000. Yang menarik dari wisata di Bali adalah pengelola kawasan wisata sebagian besar adalah kampung-kampung adat itu sendiri, sehingga mereka bukan cuman jadi penonton saja. Gw heran sama Bali, dengan semua atraksi wisata yang berupa pura, mereka mampu menarik wisatawan sangat banyak. Namun yang gw temukan adalah setiap lokasi wisata berbasis pura ada keunikan ceritanya masing-masing. Untuk itulah bagusnya di Bali beberapa lokasi memiliki guide yang membuat kita punya nilai lebih dari tempat-tempat yang dikunjungi.

Kita pulang ke Denpasar, mau ke Kuta liat sunset. Tapi yang terjadi adalah hujan tropis BESAR!!!!! And worst ban motor kempis lagi!!!!!

2 Responses to “Impulsive Runner : Baluran (part5.hot_then_rain)”

  1. gun…dari Bali kapaaaan???

  2. hi hi!! sekitar pertengahan juni..?


Leave a Reply