Mengejar mimpi..
Di keluarga besar saya, mungkin saya akan dianggap sebagai manusia paling aneh karena memilih “masa depan” menjadi ahli geologi. Ya mau bagaimana lagi, 95% dari anggota keluarga besar saya bekerja di bidang ekonomi, kalau nggak kerja di bank ya kerja di bank. Jadi mungkin mereka sangat tidak familiar dengan apa yang saya kerjakan, atau mungkin bertanya-tanya “Ngapain sih melototin batu?”. Tapi ketika terjadi gempa mereka suka nanya-nanya ke saya loh.. he he he.. Lagipula saya bingung sama mereka, kita hidup di Indonesia dimana secara geologi adalah kawasan geologi ter-kompleks di dunia, tapi kok seakan kita nggak kenal dengan apa yang kita miliki.
Mungkin kalau disuruh menjelaskan kenapa saya memilih geologi sebagai bidang studi yang saya ambil saat ini maka saya akan bingung untuk menjawabnya. Seakan semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Tapi setelah saya runut lagi sejarahnya maka saya akan menjelaskan begini.
“Waktu kecil bapak kerja pindah-pindah dari pulau ke pulau dan kota ke kota. Kebanyakan perjalanan nomaden kami lakukan dengan mobil pribadi dan kapal laut (kapal terbang cuma 2 kali). Dari sana saya melewati gunung, laut, selat, hutan, bukit, dan berbagai bentang alam lainnya. Dan dasar saya suka mengamati juga merekam hal-hal kecil tersebut, maka akhirnya secara alamiah pula saya selalu teringat semua yang terlintas di depan mata saya lalu terbawa untuk mempelajari ilmu bumi”

Cihuyyyy lagi ngukur strike/dip di kali!! Keren gak? hahaha.
Setelah beberapa saat merasakan kehidupan nomaden akhirnya saya memutuskan untuk lebih intim dengan geografi. Sejak SD, SAYA JATUH CINTA DENGAN GEOGRAFI!! Saya menghapal peta dunia, percaya nggak? Kelas 5 SD saya menghapal letak-letak pulau, nama kota, dan negara di dunia. Dan informasi akan menjadi lebih lengkap dengan buku RPAL yang cukup deskriptif. Masih dari peta dunia saya mengamati bahwa Afrika dan Amerika Selatan itu bagaikan sebuah puzzle yang bisa disatukan (dan akhirnya saya tahu bahwa mereka memang pernah menjadi satu benua yang sama jutaan tahun yang lalu). Karena anak kecil, saya suka dengan tumbuhan dan binatang. Pada peta dunia bagian Indonesia diberikan lebih banyak lagi keterangan tentang flora dan fauna dan penyebarannya dengan Garis Wallace yang membatasi antara timur dan barat. Dan ternyata petualangan saya keliling Indonesia tidak berhenti, karena ayah saya terus pindah dari pulau ke pulau… Melelahkan namun saya bahagia.
Dari sanalah akhirnya saya memutuskan untuk belajar geofisika untuk jenjang strata-1 (awalnya sih gara-gara pengen tahu tentang gunung api aja & pengaruh seorang teman baik hihihihi..) dan geologi untuk jenjang strata-2. Sebelum masuk kuliah S-2 Geologi, pernah sekali saya berpikir untuk mencoba belajar di sekolah bisnis (Magister Manajemen) dan TERNYATA (!!) hanya bertahan selama 2 minggu. Alasan saya “kabur” adalah semuanya sangat MEMBOSANKAN. Stuck di kelas yang bersih dengan pakaian yang bersih, lalu berpikir bahwa di masa depan masa depan saya akan kembali berpakaian bersih dan menggendut di pojok cubicle sambil meratapi diri. Saya rindu dengan gunung, pantai, dan bukit dimana saya bisa berteriak keras dan berbicara dengan bebatuan! Saya merasa kehilangan sebagian dari jiwa dan cita-cita saya. Maka saya pun memutuskan untuk belajar geologi untuk melengkapi kepiawaian dalam ilmu kebumian yang saya miliki. Dan orangtua saya untungnya memperbolehkan saya untuk mengejar mimpi itu. Agak sedikit labil sih, tapi setidaknya kini saya merasa lebih nyaman menjalani hidup.

Gedung Parlemen Skotlandia dengan background Arthur’s Seat @ Edinburgh, tempat dimana James Hutton mencari ilham dan menjadi salah satu monumen geologi ternama di tengah Kota Edinburgh.
Salah satu yang harus dipahami ketika belajar geologi adalah KONSEP! Di Geofisika kita banyak belajar tentang rumus fisika yang dipergunakan untuk pengukuran bentuk-bentuk bawah permukaan bumi, tapi interpretasi dari hasil pengolahan sinyal geofisika pada ujungnya harus tetap mengandalkan dasar-dasar ilmu geologi. Beberapa founding father geologi yang cukup terkenal adalah James Hutton & William Smith.
James Hutton (1726-1797) adalah bapak geologi modern dunia, dengan konsep ternamanya “Present is The Key to The Past”. Intinya adalah segala proses geologi yang terjadi pada saat ini juga terjadi di masa lampau. Jadi proses meletusnya gunung pada saat ini sama dengan proses meletusnya gunung di masa lalu, intinya semua proses alam yang terjadi di jaman dahulu bisa kita rekonstruksi ulang dengan melakukan analogi dengan proses-proses yang terjadi pada masa kini. James Hutton sendiri berasal dari Skotlandia dan ternyata pada awalnya dia itu bukan seorang ahli geologi melainkan ahli kimia dan tuan tanah. Ketika sedang termenung di Siccar Point dan menemukan konsep berpikir ini. Sekarang Siccar Point menjadi Scottish National Heritage loh!!
Lalu ada pemikir geologi lain yang berasal dari Inggris, bernama William Smith (1769 – 1839) yang ketika melakukan penambangan geologi menemukan suatu konsep pemikiran geologi berdasarkan fosil yang disebut sebagai The Principle of Faunal Succession dimana dikatakan bahwa suatu strata lapisan yang sama bisa dikenal dari fosil yang terkandung di dalamnya. Konsep berpikir ini berguna sekali dalam pemetaan geologi, baik dipermukaan atau bawah permukaan dengan menggunakan fosil sebagai penanda umur suatu perlapisan yang sama.
James Hutton (1726-1797).
Belum lagi dengan beberapa naturalis yang sebenarnya pemikirannya berhubungan dengan ilmu paleontologi (cabang geologi tentang kehidupan purba) seperti Charles Darwin dengan teori Evolusi-nya. Bahkan kalau dipikir-pikir ya, Alfred Wallace memberikan petunjuk juga buat kita tentang Teori Plate Tectonic yang dianut oleh sebagian besar geologist saat ini. Perbedaan fauna & flora yang ditunjukan pada Indonesia barat dan timur menjelaskan bahwa kedua wilayah tersebut dahulunya terpisah-pisah. Indonesia barat merupakan bagian dari Asia dan Indonesia timur terbawa dari wilayah lebih selatan yang bergerak seiring pergerakan lempeng, kemudian saling bertabrakan di posisi pada saat ini. LUAR BIASA ilmu bumi ini!
Melihat bahwa semua orang-orang yang berkecimpung di dunia geologi banyak dibesarkan di UK, di Inggris atau Skotlandia, maka suatu saat saya ingin sekali mengejar jenjang S-3 saya di UK sana. Kalau hal ini benar-benar terjadi maka impian yang saya pupuk sejak kecil akan menjadi kenyataan, belajar di negeri tempat ilmu geologi modern berkembang dengan sangat pesat dan pemikiran-pemikiran para ahlinya dijadikan standar baku di berbagai buku-buku ilmu kebumian dunia.
Untuk persoalan hidup, saya sendiri ingin menjalani jalan yang saya pilih dan mengejar semuanya dengan semangat karena memang memiliki ketertarikan disana. Terkadang ketika kita mengejar mimpi kita, masa depan yang dituju sudah jelas namun penuh dengan tanda-tanya dan resiko, tapi disanalah semuanya menjadi sangat menyenangkan. Sepertinya adrenalin mengalir dengan kencang untuk mendapatkan segala hal yang kita inginkan. Dan saya percaya kepuasan akan hidup tidak bisa diukur oleh uang, namun keinginan untuk menjalani mimpi yang kita miliki semenjak usia dini dan menjadikannya menjadi kenyataan.
(Gw selalu pengen nangis kalau nulis kalimat terakhir ini.. hiks-hiks.. don’t give up your dreams guys!)
Loading...
jadi terharu..
jadi inget kuliah geokonsep juga..
abah - September 3, 2009 at 11:44 pm
hiks hiks.. gw juga makin terharu bah.. hiks hiks..
agn - September 3, 2009 at 11:50 pm
coba yg dari astronomi jelaskan.. hahahaha
agn - September 3, 2009 at 11:51 pm
Arsitek dong!, lebih keren kemana-mana. hihi.!!…(symbol peradaban umat manusia, karena perkembangan arsitektur nya) oyeeeee…!!!..
Galih - September 4, 2009 at 4:47 am
wah si chauvinisme muncul. FYI lih, peradaban akan selalu dimulai dengan *energi*. Hah! Energi equal ilmu bumi. hahaha..
agn - September 4, 2009 at 7:55 am
yeeee si abang, … elu yang chauvinisme 10 paragraph. haha
FYI juga, energi dan ilmu bumi ditemukan akibat tingginya peradaban. Peradaban dimulai ketika ditemukan nya sistem pencatatan dalam bentuk bahasa grafis “tulisan”. dan, itu semua di ejawantahkan dalam bentuk penggambaran “Tuhan” dalam seni arsitektur tempat pemujaannya.
see!!… haha…. makanya di arsitektur gak ada “Bapak Arsitektur Dunia”…
Dul, kalo mau bikin rumah. lo harus kontak gw!!… gw kasih harga khusus…. (promo)
Galih - September 4, 2009 at 1:04 pm
eh si cau, jelas-jelas kehidupan berawal dari energi.. jadi kalau gak ada energi maka alam semesta pun tidak akan pernah terjadi. Teori Big Bang brur..
Jadi setelah terciptanya bumi akibat bantuan *energi* maka baru muncul makhluk hidup yang terus berevolusi bentuk dan volume otak sehingga menciptakan perdaban.. nah kumaha tah!
agn - September 4, 2009 at 1:26 pm
aww…menyentuh sekali postingan ini,Gun.
Kamu pria yang punya ” passion “.
Some girls dig that VERY much !
Want me to introduce you to one of em ?
hahahahaha.
unee - September 5, 2009 at 1:55 am
Aduh Kak Unee.. *_*
agn - September 5, 2009 at 6:20 am
waa seneng gw bc postingan ini,,,
bikin jadi semangat,,
rock the rocks gun!! ahaha
fara - September 5, 2009 at 2:41 pm
amien.. semoga membantu.. gw juga masih terus memupuk semangat itu.. hehehhehe..
agn - September 5, 2009 at 11:24 pm
guuuun….sepertinya ini tulisan yang harus gwe tulis juga. Oceanography lebih terdengar ajaib bukan…?! aku bikin ah tulisannya…terinsipirasi dari tulisanmu….
winDa - September 9, 2009 at 7:25 pm
Oseanografer = langka. Padahal Indonesia 70% laut bukan?
agn - September 9, 2009 at 8:15 pm
lah justru itu..lahan pekerjannya di dominasi ama amerika dan australia lagi sekarang..apa kabar euy?!
winDa - September 12, 2009 at 6:19 pm
well,
banyak orang yang udah “berumur” kemudian lupa sama mimpi-mimpinya, dan kemudian meninggalkan itu semua. padahal menurut gw sih itu salah satu esensi orang hidup.
it’s good to know you still have your passion. dan gw setuju bgt sama yang dibilang Unee. hohoho.
eniweiiii,
ini postingan buat ikut lomba blog education UK yaa kk..eke mau ikutan juga ahhhh..
puput - September 12, 2009 at 7:26 pm
wow, seorang geologist ya… keren bangetzzzzz
Nugroho - September 16, 2009 at 6:43 am
JADI MALU GUA!! ADA GEOLOGIST ASLI DISINI NGASIH KOMEN!!!!! wakakakak
agn - September 16, 2009 at 12:13 pm
wew… cadas! suka sama postingannya. dari hati terdalam kayaknya. selama sudah menemukan apa yang harus dikejar. semangat!!
satu lagi, saya iri saya situ. enak yah bisa jadi orang nomaden. pengetahuannya banyak!!
fadhilatul muharram - September 27, 2009 at 7:42 am
*saya iri sama situ maksudnya
fadhilatul muharram - September 27, 2009 at 10:01 am
semangat mas… jangan putus semangat!
xyz - September 30, 2009 at 8:47 am
saya juga kadang2 iri sama yg nggak nomaden.. karena punya temen-temen masa sd sampai SMA yg berkelanjutan.. saya ndak punya..
xyz - September 30, 2009 at 8:51 am
[...] Purwaningsih , Agung Nata , Evi Widiarti , Anggun Pribadi , Windu Radityo , Sotyasari Dhanisworo , Euis Marlina , Fadhilatul Muharam , Saumi Rizqiyanto , Odi [...]
British Council Indonesia - NOW 60 » Blog Archive » Ini dia tulisan peserta - November 3, 2009 at 2:00 pm